Upacara Mamat Tradisi Dayak Kenyah

Pembukaan Upacara Adat Mamat Lembaga Adat Dayak Kenyah Kabupaten Malinau Tahun 2018. Foto:Metro Kaltara

Upacara Mamat merupakan Tradisi Dayak Kenyah  yang berkaitan dengan tradisi Ngayau,  yang biasa dilakukan untuk menyambut para prajurit yang pulang dari tugas  perang dan berburu kepala musuh.

Tradisi ngayau atau kayau salah satu tradisi mengerikan yang pernah dilakukan masyarakat Suku Dayak Kalimantan. Di masa lalu, saat para kelompok Suku Dayak masih memuja Dewa, mereka melakukan tradisi berburu kepala manusia yang disebut ” Ngayau”.

Bagi kepercayaan masyarakat Suku Dayak jaman dulu, memenggal kepala manusia merupakan cara untuk membuktikan keberanian dan kemenangan. Namun, salah satu Suku Dayak menjalankan tradisi ini, adalah Dayak Kenyah.

Perburuan kepala dilakukan oleh kelompok kecil yang terdiri dari 10 hingga 20 orang laki-laki dari Suku Dayak yang dilakukan dalam sebuah misi rahasia. Pada masa lalu, Suku Dayak Kenyah dilaporkan sebagai pemburu kepala yang paling terkenal di Kalimantan.

Bagi Suku Dayak Kenyah, dibalik tradisi Ngayau terdapat pula rangkaian tradisi penyambutan yang disebut Mamat atau belawing. Mamat adalah sebuah tradisi untuk menyambut para prajurit yang kembali dari perburuan dan berhasil mengalahkan musuh. Upacara ini melambangkan kemenangan, kejayaan, dan keberanian prajurit perang, serta untuk menolak roh-roh jahat.

Dengan iringan alat musik tradisional seperti sampe, gambangan kayu, para perempuan suku dayak Kenyah menyambut para pahlawan itu dengan tarian penyambutan Datun Julud.

Mamat juga diartikan sebagai pesta pemotongan kepala, yang mengakhiri masa perkabungan dan menyertai upacara inisiasi untuk memasuki sistem status bertingkat yang disebut Suhan, untuk para prajurit perang. Jadi, Mamat merupakan upacara untuk merayakan peningkatan status sosial atau jabatan di suatu adat atas pencapaiannya dalam perburuan.

Saat ini, tradisi upacara Mamat digelar hanya sebagai atraksi atau pertunjukkan lestarinya seni budaya dayak Kenyah, serta dilakukan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Biasanya dilaksanakan setahun sekali tepatnya setelah massa panen.

Buat kamu Pewarta Tuyang Issue, jika ada sumber artikel dan referensi lainnya yang ingin menambahkan atau mengoreksi tulisan ini, kami sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin memperkaya kkasana keilmuan dan pengetahuan budaya Dayak melalui tulisan-tulisan yang bermanfaat.(*)

Kontributor : Marlena Wai