Tradisi Dayak Kenyah Na Ngadan Amai Bio

Salah Satu Tarian Dayak Kenyah. Foto : Greatnesia.id

Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi salah satu provinsi yang banyak dihuni oleh beragam sub suku dayak. Provinsi ini kaya akan beragam tradisi dan kebudayaan khas suku dayak yang masih lestari hingga kini. Ada suku Dayak Kenyah, Kayan, Bahau, Lundayeh, Punan, Agabag, Belusu, Tahol, Tenggalan dan lain sebagainya.

Salah satu yang ingin dikenalkan pewarta Tuyangissue.id kali ini¬† adalah tradisi “Na Ngadan Amai Bio” dari suku dayak kenyah, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Apa itu tradisi budaya  Na Ngadan Amai Bio dalam tradisi Dayak Kenyah?

Dikutip dari situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id, Na Ngadan Amai Bio adalah upacara pemberian nama kehormatan bagi Dayak Kenyah. Nama kehormatan adalah suatu penghargaan yang sangat bernilai sakral dan hakiki terhadap seseorang yang dianggap memang pantas dan mengemban tanggungjawab besar bagi masyarakat dimana dia diberikan mandat dan amanah. Sehingga nama yang dipilih mengandung makna yang sangat mendalam dan wujud sikap nyata bagi kehidupan dalam bermasyarakat.

Pernyataan ini bukanlah kata pelipur, namun telah diimplementasikan melalui kebijakan dalam program dan berdampak bagi pola berpikir dan sikap masyarakat dalam berkarya dan berbakti, baik untuk pribadi, keluarga, masyarakat bahkan berbangsa dan bernegara.

Adapun maksud diperagakan prosesi pemberian nama kehormatan ini, agar masyarakat dapat mengetahui, baik komunitas secara umum, terlebih bagi generasi di era sekarang dan selanjutnya, agar mengetahui dan mengenal adat dan budayanya sendiri sebagai pewaris nilai leluhurnya.

Dalam prosesi pemberian nama kehormatan ini akan berlangsung, diawali dengan penampilan Tarian Kolaborasi yang memperagakan gerakan Gemulai Para Gadis Nan Cantik Rupawan dari berbagai Desa, baik yang ada di perkotaan juga dari desa-desa di perbatasan dan pedalaman, dengan tampilan yang Natural, serta diiringi lantunan musik tradisional yang menyatuhkan langkah menuju arena pertunjukan.

Kemudian setelah menempati posisi sebagai figurasi arena pertunjukan, menyusullah barisan penari AJAI yang mengawal sang punggawa, serta para sesepuh yang akan melakukan prosesi pemberian nama kehormatan tersebut.

Senafas dengan upacara ini dilakukan penyembelihan hewan kurban sebagai simbol terhadap suatu acara Adat. Sedangkan darah binatang yang dikorbankan tersebut adalah melambangkan Nilai Kesakralan Ritualitas bagi nama kehormatan itu.

Demikian pula ungkapan yang menghantarkan pesan yang bertutur dalam bahasa kiasan, oleh sang punggawa pemberian nama kehormatan itu.

Buat kamu Pewarta Tuyang Issue, jika ada sumber artikel dan referensi lainnya yang ingin menambahkan atau mengoreksi tulisan ini, kami sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin memperkaya kkasana keilmuan dan pengetahuan budaya Dayak melalui tulisan-tulisan yang bermanfaat.

Kontributor : Marlena

Sumber : kemdikbud.go.id