Tradisi Bedolob Upacara Pengadilan Adat Dayak Agabag

Ritual Bedolop. Foto : Correcto.id

Suku Dayak Agabag adalah salah satu sub suku Dayak yang banyak mendiami wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara, khususunya Kabupaten Nunukan. Seperti halnya suku Dayak lainnya, Suku Dayak Agabag masih memegang teguh tradisi dan adat isitiadat para leluhur, salah satunya adalah tradisi hukum adat dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara mereka yang disebut dengan “Bedolob”.

Bedolob merupakan mekanisme hukum tertinggi yang diambil untuk penyelesaian sengketa yang terjadi di antara sesama warga dayak Agabag jika penyelesaian secara musyawarah adat dan kekeluargaan tidak menghasilkan solusi bagi kedua belah pihak. Kasus yang biasanya diselesaikan dengan tradisi Bedolob sangat beragam, mulai dari kasus pencurian, perselingkuhan, sengketa tanah, hingga pembunuhan.

Dalam kepercayan Dayak Agabag, Bedolob memiliki efek psikologi dan sanksi sosial yang berdampak cukup besar, sehingga membuat warga Dayak Agabag tidak gegabah menyelesaikan sebuah permasalahan dengan tradisi tersebut.

Biasanya tetua adat akan berusaha menyelesaikan perselisihan di antara warganya dengan cara musyawarah secara kekeluargaan maupun secara adat terlebih dahulu. Karena untuk menggelar ritual Bedolob, mereka membutuhkan biaya besar.

Kedua belah pihak harus menyediakan tebusan yang biasanya berupa guci kuno yang harganya puluhan hingga ratusan juta rupiah atau berupa hewan ternak seperti babi sesuai dengan kesepakatan sebelum ritual dimulai. Bagi pihak yang kalah dalam Bedolob, maka ia harus menanggung konsekuensi dengan membayar tebusan yang telah disepakati

Keputusan untuk menggelar upacara adat Bedolob merupakan hak prerogatif dari tetua adat. Berhasil tidaknya pelaksanaan Bedolob sangat bergantung kepada keputusan tetua adat.

Syarat utama tempat menggelar upacara Bedolob harus dilaksanakan di sebuah sungai. Tetua adat juga harus mempersiapkan persyaratan seperti kayu rambutan hutan atau kalambuku sebagai penanda lokasi pelaku. Sedangkan untuk ritual pemanggilan roh leluhur dibutuhkan peralatan seperti beras kuning, jantung pisang, kain kuning, kain merah dan pohon kalambuku.

Dalam ritual pemanggilan roh, semua roh nenek moyang dari darat, dari laut dipanggil untuk menyaksikan jalannya prosesi Bedolob. Inti dari ritual dari pemanggilan roh sebenarnya untuk minta izin kepada Tuhan dalam mengadili keduanya.

Setelah upacara ritual pemanggilan roh, kedua belah pihak yang bersengketa kemudian dipersilakan masuk ke sungai sebagai arena upacara. Di sungai tersebut tetua adat telah menancapkan 2 buah kayu kalambuku dengan kedalaman sekitar sepinggang orang dewasa.

Dua tajak dari kayu rambutan hutan tersebut selain sebagai penanda arena upacara juga sebagai penanda tempat kedua warga yang bertikai untuk melakukan penyelaman. Dalam tradisi Bedolob diyakini bahwa orang yang tidak bersalah selama menyelam dalam air akan bernafas seperti biasanya mereka di darat. Mereka tidak akan mengalami kesulitan bernafas.

Sementara bagi yang bersalah, dipercaya mereka akan mendapat gangguan dari binatang air maupun dari roh-roh leluhur mereka. Biasanya orang yang bersalah bisa mengalami pendarahan dari telinga dan hidung jika nekat bertahan didalam air. Bahkan bila fatal bisa mengakibatkan kematian.

Warga Dayak Agabag sampai sekarang meyakini, pengadilan pada upacara Bedolob merupakan pengadilan Tuhan yang paling adil karena selain disaksikan oleh leluhur mereka, pengadilan tersebut merupakan pengadilan dari sang penguasa alam raya, maka itu mereka terus memelihara tradisi ini sebagai warisan dari leluhur mereka yang harus dilestarikan.(*) Sumber : Baji Misak, salah satu tokoh muda Suku Dayak Agabag Yang ditulis Kompas.com.

Kontributor : Yosef88