Tiga Peribahasa Khas Masyarakat Dayak Maanyan

Tarian Dayak Maanyan. Foto : Wikipedia

INDONESIA memiliki tidak kurang dari 1.340 suku bangsa dan lebih dari 546 ragam bahasa daerah. Ada  ratus­an ribu peribahasa yang menjadi pedoman hidup masyarakat Nusantara di masa lalu sebagai  wujud kearifan lokal.

Peribahasa adalah untaian kata-kata yang berbaris bak lagu merdu. Berhimpun pada  satu maksud dan membentuk suatu arti. Bersama, kata-kata itu meneguhkan identitas kesejatian yang sarat akan makna.  Peribahasa biasanya  dapat berarti nasehat, himbauan, peringatan, atau bahkan sindiran.

Masyarakat Suku Dayak Maanyan yang tinggal di Kalimantan Tengah ternyata mempunyai banyak peribahasa yang tak kalah menarik, berikut tiga peribahasa Dayak Maanyan yang dapat kamu pelajari  ucapan dan maknanya.

  1. Ipahanrai sasameh punggur

Dalam hidup ini kita kadang kala salah dalam menentukan pilihan atau salah dalam menilai seseorang. Orang  yang kita anggap dan harap mampu membantu kita ternyata tak mampu berbuat apa-apa. Demikian maksud dari  peribahasa “Ipahanrai sasameh punggur” , yang   mempunyai arti “saling bersandar pada batang kayu lapuk”. Seperti yang kita ketahui, kayu lapuk tak dapat dijadikan tempat bersandar yang baik. Pantas saja jika peribahasa ini mempunyai arti meminta bantuan kepada orang yang juga tak mampu.

  1. Munu iwek, nyambelum wawui

Dalam Bahasa Indonesia, peribahasa Munu iwek, nyambelum wawui dapat diartikan “membunuh babi peliharaan, memelihara babi liar” yang bermakna seseorang yang rela menyusahkan diri sendiri demi kesenangan orang lain.

Dalam istilah modern nya, peribahasa ini dapat disamakan dengan  ” Altruisme” yakni keadaan pikiran yang baik hati dan didorong oleh perasaan prihatin seseorang terhadap orang lain. Kepedulian yang dimilikinya untuk mensejahterakan orang lain, kadang kala rela   merugikan kesejahteraan dan kesehatan diri sendiri.

  1. Dunrung ruah rare, petan sangkuh benet

Dalam menjalani hidup ini, semua manusia pasti ingin menggapai kesuksesan. Tetapi  tidak semua orang selalu  berhasil dalam setiap usahanya.

Namun, kita kadang menjumpai sesorang yang dalam penilaian kita selalu berhasil melakukan berbagai macam usaha untuk menuju kesuksesan.

Peribahasa yang cocok untuk menggambarkan seseorang tersebut ialah dunrung ruah rare, petan sangkuh benet.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, peribahasa ini berarti “pedang bermata dua, sumpitan bermata tombak”. Peribahasa ini diungkapkan sebagai ucapan bangga terhadap seseorang yang telah bekerja keras dan layak mendapatkan kesuksesan.(*)

Baca Juga : panglima Jilah dan TBBR Banjir Dukungan