Sumpit, Senjata Senyap Khas Bangsa Dayak Yang Menakutkan

Sumpit, Senjata Khas Dayak, foto: Sutter Stock

TUYANGISSUE.ID – Setiap suku yang ada di Indonesia masing-masing memiliki senjata tradisional yang khas. Termasuk suku Dayak memiliki sejumlah senjata tradisional, salah satunya sumpit atau sipet. Senjata ini masih sering digunakan terutama untuk berburu hewan liar atau hewan untuk di makan.

Dulunya, Sumpit adalah senjata yang digunakan bila terjadi pertempuran selain tombak (Lunju) dan Mandau.Sumpit ini tergolong senjata senyap atau senjata tradisional jarak jauh untuk melumpuhkan sasaran. Disebut senyap, karena senjata ini memang tak mengeluarkan suara berisik

Konon saat terjadi perperangan antara Suku Dayak dengan penjajah di Kalimantan, Sipet menjadi senjata andalan, meskipun tentara penjajah kala itu bersenjatakan senapan praktis dan canggih.

Untuk melumpuhkan target, anak sipet atau damek, dalam bahasa dayak Iban disebut ‘lajak’, dibuat menggunakan bambu (dalam bahasa suku Dayak), lalu dilumuri getah pohon ipuh atau pohon iren sebagai racun.

Untuk kepentingan berburu, ujung anak sumpit (damek) yang lancip itu biasa direndam dalam racun dari getah tumbuhan ipu atau siren yang sangat mematikan. Binatang buruan yang tertancap di ujung damek dipastikan akan mati dalam waktu 30 detik hingga 3 menit. Bagian daging di sekitar damek menancap akan berwarna biru dan harus dibuang karena berbahaya jika dimakan.

Karena begitu mematikannya anak sumpit beracun itu, di masyarakat Dayak terdapat juga pantangan menggunakan damek beracun untuk menyumpit manusia. Sekali damek mengenai manusia, dikatakan bahwa damek yang tersisa akan kehilangan ”kesaktiannya”. Itulah kearifan lokal agar manusia tak saling bunuh.

Kearifan lokal juga tecermin dari filosofi pembuatan sumpit yang butuh ketelatenan dan kesabaran untuk mengebor (membuat lubang berdiameter sekitar 1 sentimeter dengan panjang 1,2-2 meter di dalam batang kayu ulin yang keras itu selama berbulan-bulan. Sumpit memiliki tingkat akurasi tembak mencapai sekitar 200 meter.

Sumpit tidak dibuat sembarangan, hanya bisa dibuat oleh Suku Dayak yang memiliki keahlian khusus. Sementara proses pembuatannya memakan waktu yang lama.

Sebab, pembuatan sumpit harus disesuaikan dengan sang pengguna. Panjang sumpit harus sama dengan tinggi badan sang pemegang, karena mempengaruhi tekanan udara saat meniup sumpit ke sasaran.

Selain itu, dalam penggunaanya juga memiliki beberapa aturan. Misalnya, tidak boleh menyerang sesama suku dan tidak boleh dipotong atau pun diinjak.

Karena ini menjadi tradisi suku Dayak, untuk melestarikannya, pemerintah setempat kerap menggelar lomba menyimpet atau menyumpit.(*)

KONTRIBUTOR  : ADAN JIU