Bulan Malan, Agama Leluhur Dayak Kenyah

Gambar Hanya llustrasi Dewi Kebaikan, foto :sapphire key

 

SPEKTRUM  kebenaran Tuhan diterima dan diterjemahkan berbeda-beda oleh masing-masing kaum (manusia) di muka bumi ini.

Tingginya tingkat spritualisasi dan supranaturulisasi para leluhur nenek moyang kita, membuat mereka mampu menerima dan menterjemahkan fenomena atau pertanda kekuasaan Tuhan.

Bangsa Jepang menerima spektrum ketuhanan  melalui matahari yang diritualisasi melalui agama Shinto, Yunani dengan kisah para dewa-dewa, India melalui ajaran agama Hindu, bangsa Persia Kuno dengan agama Zoroasternya. Di Indonesia, para leluhur kita pun menerima kebenaran Tuhan dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan akal dan budaya suku bangsa mereka. Ada Kejawen Jawa, Sudan Wiwitan, Permalin Batak, Aluk Tulodo Toraja, Kaharingan dan Bulan Malan untuk Dayak, dan lain sebagainya.

Arkeolog dan antropolog membuktikan bahwa manusia sejak dulu (pre histrori) telah mengenal Tuhan dan tata cara menyembahNya. Upacara ritual keagamaan yang dimanifestasi melalui benda-bendadan mahluk hidup lainnya  merupakan bukti keterikatan mereka kepada Tuhannya.

Seiring waktu, pemeluk keyakinan ajaran para leluhur itu  semakin menyusut,  menjadi minoritas bahkan hilang di tengah-tengah kaumnya dan  wilayah mereka sendiri. Kuatnya ekspansi, dominasi dan politisasi  agama  dari luar membuat mereka terpaksa harus melepas ajaran leluhurnya. Ajaran mereka tidak lagi dianggap sebagai agama, namun distigma  sebagai mitos, mistis, cerita rakyat, animisme,tradisi dan sebagainya. Yang anehnya, negara yang dikendalikan oleh penganut-penganut agama impor, ikut-ikut  bertindak layaknya Tuhan,   tidak mengakui agama-asli leluhur itu berkembang di nusantara.

Padahal penerimaan spektrum kebenaran dan kekuasaan Tuhan itu dilakukan melalui proses spritualisasi yang cukup panjang, dan sangat diyakini akan kebenarannya.

Penulis termasuk salah seorang yang menyakini bahwa para leluhur Bangsa Dayak pun menerima spektrum kebenaran dan kekuasaan dengan cara mereka sendiri. Kenabian manusia pilihan pun dihadirkan Tuhan ditengah-tengah para leluhur Bangsa Dayak. Spektrum ketuhanan itu kemudian diterjemahan melalui ritual keagamaan, yang kata pemeluk agama lain sebagai adat istiadat atau tradisi. Penyebutan adat yang bergeser dari makna ritual keagamaan itu baru muncul ketika agama-agama impor masuk ke Indonesia.

Dalam berkeyakinan, mayoritas agama nusantara, termasuk agama bangsa Dayak tidak bersifat ekspansif dan politis. Agama tidak dikaitkan dengan kekuasaan dan tidak  disebar kepada bangsa lain. Para leluhur kita menyakini bahwa kebenaran Tuhan itu hanya dapat diterjemahkan oleh kaumnya sendiri.

Salah satu agama bangsa Dayak yang masih bertahan, selain kaharingan adalah Bulan Malan, yakni agama asli Dayak Kenyah.

Bungan Malan Peselung Luan
Bungan Malan Peselung Luan atau Bungan Malan adalah roh atau makhluk di luar dunia manusia yang direpresentasikan sebagai sosok seorang wanita cantik (dewi) yang arif, bijaksana, serta sakti. Atas kelebihan inilah, Bungan Malan Peselung Luan sangat disegani dan diagungkan oleh Dayak Kenyah.

Selain itu, sosok Bungan Malan Peselung Luan juga digambarkan sebagai sesosok wanita cantik yang mempunyai telinga panjang. Alasan inilah yang kemudian dibawa dalam tradisi wanita Dayak Kenyah untuk memanjangkan daun telinganya (Maunati, 2004: 150).

Sosok Bungan Malan diibaratkan sebagai roh yang menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam. Bagi Dayak Kenyah menjaga keseimbangan alam merupakan perintah dari Tuhan. Menjaga alam berarti menjaga ikatan harmonis antara sang pencipta alam dengan manusia.

Ajaran ini diyakini sebagai solusi menciptakan keseimbangan kehidupan, antar sesama manusia, antara mereka dengan alam sekitar dan antara mereka dengan sang penguasa alam semesta, menjamin keberlangsungan hidup mereka dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Melanggar ajaran (adat) Bungan Malam berarti melanggar perintah Tuhan dan mengancam kehidupan. Apabila Bungan Malan Peselung Luan sampai murka maka akan timbul beragam bencana yang sangat ditakutkan oleh Suku Dayak Kenyah.

W. William Conley, dalam bukunya The Kalimantan Kenyah: A Study of Tribal Conversionin Term of Dinamic Cultural Themes menyebutkan “agama bagi semua orang Kenyah sebelum Agama Kristen datang disebut Adet Tepun (Agama nenek Moyang”. Menurut Conley, Dayak Kenyah percaya pada tiga jenis roh (bali), yaitu roh baik, jahat, dan yang tidak dapat diduga. Bungan Malan Peselung Luan adalah contoh roh baik, yang biasanya dipuja oleh Dayak Kenyah dalam upacara keagamaan. Bungan Malan Peselung Luan inilah yang lazim dikatakan sebagai Tuhan bagi Dayak Kenyah. (W. William Conley, 1973: xvii dan 52 dalam Maunati, 2004: 80-81).

Simbol penghormatan terhadap Bungan Malan Peselung Luan dilakukan melalui beragam ritual keagaman yang menyertakan berbagai sesaji/ persembahan.
Para leluhur Dayak Kenyah meyakini bahwa mereka diciptakan oleh Bungan Malan Peselung Luan dari kayu aran (ara). Maka itu Kayu aran kemudian menjadi lambang kehidupan bagi manusia yang disebut“kayu udiep” (pohon kehidupan).

Dalam menjalin komunikasi manusia dengan Bungan Malan dibutuhkanan perantaraan Pertama, melalui pertanda dalam wujud binatang atau peristiwa alam, Misalnya saja, jika mereka melihat burung pelatuk dan burung elang terbang, berarti kebaikan akan datang. Tetapi apabila burung tersebut terbangnya menghalang atau melintang itu pertanda datangnya kecelakaan. Untuk itu apabila mereka menempuh perjalanan di hutan sebaiknya cepat-cepat pulang, karena mereka mempercayai bahwa itulah larangan dari Bungan Malan Peselung Luan yang disampaikan dengan perantara binatang. Kedua, melalui perantaraan Bali Utung (roh penjaga penghuni rumah panjang) (Maunati, 2004: 81).Bagi Dayak Kenyah, sikap taat terhadap Bungan Malan Peselung Luan diwujudkan dalam mematuhi setiap pertanda yang dianggap sebagai perintah dari Bungan Malan Peselung Luan.(*)

KOTRIBUTOR ; TOM MED MARING

Baca Juga : Tolak Transmigrasi Bukan Tolak Pendatang