Sering Dikriminalisasi dan Didiskriminasi, Warga Dayak Ancam Sabah dan Serawak Keluar Dari Malaysia

TUYANDISSUE.ID – Diskriminasi yang dilakukan terus-terusan Pemerintah Malaysia terhadap warga Dayak, dapat  menjadi pemicu keluarnya Masyarakat Suku Dayak di Negara Bagian Sarawak dan Negara Bagian Sabah dari  Federasi Malaysia.

“Sarawak dan Sabah keluar dari Malaysia, hanya soal waktu, pasti terwujud jika kami orang Dayak terus-terusan menjadi korban kriminalisasi politik.Kami orang Dayak di Sabah dan Sarawak, menjadi asing di tanah sendiri di Pulau Borneo, Pulau Dayak, Tanah Dayak,” kata Peter Jaban (Panglima Ribut), Founder Dayak Right Action Force (DRAF) dalam webinar: “Geostrategi Orang Asal Dayak dalam Geopolitik Pulau Borneo & Isu Referendum Sabah dan Sarawak”, Sabtu, 25 September 2021.

Peter John Jaban pun bercerita pernah mengalami  diskriminasi dari kepolisian Malaysia, “Saya pernah ditangkap Polisi di Kuala Lumpur, hanya lantaran menggunakan tato cirikhas Dayak. Dalam intrograsi, malah oknum Polisi di Kuala Lumpur, tanya kenapa orang Dayak bisa berada di Kuala Lumpur. Saya dan istri, betul-betul sakit hati.”Sesalnya.

Dalam tataran politik kebudayaan di Federasi Malaysia, orang Dayak di Sabah dan Sarawak, sama sekali tidak diperhitungkan. Sebagai orang asal, orang Dayak tidak diakui. Kalau orang lain, suku lain, dimasukkan ke dalam kelompok Bumi Putera, orang Dayak dikategorikan ke dalam kelompok lain-lain, sehingga sama sekali tidak dianggap.

“Kalau orang imigran dari Pakistan dan Filipina, dengan mudan mengantongi Kartu Tanpa Penduduk, atau Identity Card, IC, orang Dayak dipersulit mendapatkan IC. Ini kenyataan pahit yang kami alami, tapi para oknum elit politik orang Dayak, tidak ada yang berani bersuara,” kata Peter.

Lebih lanjut  Peter mengungkapkan, perlakukan diskriminatif itulah yang menjadi salah satu pemilu 23 tokoh lembaga swadaya masyarakat dan tokoh di Sabah dan Sarawak, mengeluarkan memorandum untuk menuju referendum, keluar dari Federasi Malaysia, Kamis malam, 16 September 2021.(*)