Seraung Topi Khas Dayak Kenyah Yang Multifungsi

Ragam Topi Seraung. Foto : detik.com

TUYANGISSUE.ID – Suku bangsa Dayak dikenal dengan keindahan  aksesoris-aksesoris yang unik dan beragam yang mereka gunakan untuk melindungi dan menghiasi bagian tubuh mereka. Termasuk diantaranya adalah topi khas Dayak yang biasanya dilengkapi dengan hiasan dari bagian tubuh satwa yang telah mati atau dari tumbuh-tumbuhan yang diperoleh   dari hutan, seperti rotan, daun pandan, daun kayang atau kulit kayu.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah, dikenal salah satu jenis topi yang disebut “Seraung”. Pelindung kepala ini dibuat oleh masyarakat Dayak Kenyah sejak zaman dahulu. Topi ini bentuknya bulat lebar. Memiliki ukuran lebar dan sekilas mirip dengan topi caping. Terbuat dari beragam jenis daun yang dianyam kemudian dilapisi dengan kain berwarna terang dan cerah.

Biasanya digunakan untuk aktivas harian di luar rumah seperti ke ladang, ke hutan, perjalanan bahkan untuk acara adat suku Dayak.

Memang topi lebar Seraung ini cocok untuk melindungi dari sengatan matahari yang terik, hujan dan ancaman ular ketika memasuki belantara hutan. Begitu pun saat acara adat yang sering digelar di kalangan suku Dayak. Sejak dulu di masa lampau.

                                              Baca Juga : Ragam Rumpun Suku Bangsa Dayak di Tanah Borneo

Dulunya, Seraung banyak terbuat dari daun Biru. Daun ini permukaannya lebar. Tumbuhnya di pedalaman hutan Kalimantan. Butuh perjuangan untuk mendapatkan daun yang menyerupai palem ini. Karena sudah sulit di dapat, sekarang seraung banyak menggunakan Daun pandang dan Daun kajang.

Proses pembuatannya dimulai dengan mengeringkan daun biru selama satu minggu. Lalu cuci hingga bersih sekitar lima menit.

Daun biru lalu diluruskan dengan cara digulung-gulungkan di tangan. Lalu simpan di bawah tikar agar lurus dan rata selama sekitar seminggu.

Daun yang sudah rata, lalu disusun. Dijahit dan dibentuk seperti kerucut. Setelah selesai dilapisi bagian daun tersebut dengan kain berwarna cerah.

Agar kokoh, bagian pinggir topi dipasangi lidi dari daun kelapa. Kemudian ditambah hiasan seperti sulaman atau manik-manik. Dalam teknik menjahitnya juga sekarang sudah modern tak lagi menggunakan cara manual

Kini banyak warga yang membuat seraung-seraung ukuran kecil untuk hiasan. Bahkan ada juga yang berinovasi dengan menambahkan manik-manik dan kain khusus untuk menambah cantik tpi seraung serta membuatnya dari bahan kulit hewan.

Kekinian, topi seraung kini tidak hanya digunakan untuk aktivitas luar rumah saja. Tapi banyak dimanfaatkan  untuk hiasan dan pajang  dinding rumah atau  kantor,  lampu hias dan lain sebagainya. Seraung pun telah bertransformasi menjadi karya seni dekoratif dan berkelas yang diminati semua masyarakat non Dayak. Topi seraung khas Dayak, kini makin banyak dilirik wisatawan yang berkunjung ke sentra-sentra kriya khas Dayak.(*)