Sakral, Ributkan dan Rebutkan Ketua Adat

 

 

MUSYAWARAH Daerah (Musda) III Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah (DAD Kalteng), akan dilaksanakan besok Minggu, 7 November 2021. Sejumlah nama yang dinilai layak digadang-gadang  memimpin DAD Kalteng untuk lima tahun kedepan. Ada  Bambang Irawan, Ben Brahim S Bahat, Willy M Yoseph, Perdie M Yoseph, Sakariyas, Andrie Elia Embang dan Yansen Binti, Mambang I Tubil Rahmadi G Lentam dan tentunya sang petahana Agustiar Sabran.

Masyarakat Dayak Kalteng pasti berharap Ketua DAD Kalteng yang terpilih nanti , sungguh-sungguh dapat melindungi dan memperjuangkan hak-hak adat masyarakat Dayak. Ketua DAD sebaiknya tidak terjebak pada kepentingan politis dan kapitalis. Ia harus menjauh dari segala bentuk kepentingan kelompok. Ia hanya menempatkan norma adat dan hukum adat sebagai panglima dalam melindungi masyarakat Dayak di Kalteng.

Baca Juga : Kontruksi Lembaga Adat melalui Peran Serta Lembaga Adat Desa

Motivasi tokoh Dayak yang ingin menjadi ketua DAD Kalteng dapat kita nilai dari proses pemilihan pada Musda kali ini. Motivasi itu dapat dihubungan dengan pengetahuan dan kesadaran dirinya  akan kelembagaan sebuah keketuaan adat di suatu daerah.

Penggunaan kanal atau relasi  politik,  dan ambisi yang berlebihan dalam memperebutkan jabatan ketua  DAD  dapat diterjemahkan ada nya kepentingan lain di luar koridor cita-cita masyarakat adat Dayak di Kalteng.

Tak elok jika ada calon ketua DAD yang terang-terangan ingin  memperebutkan dan meributkan proses pemilihan ketua DAD. Kesakralan dan kesucian pemilihan ketua DAD harus dijaga dan dijunjung tinggi oleh semua  pihak. Kita haru belajar menerima secara ikhlas proses yang sakral itu sebagai keputusan Jubata.

Maka itu penting untuk menjaga marwah adat dalam proses pemilihan ketua DAD. Pada prinsipnya, para penerima mandat yang punya hak untuk memilih merupakan perwakilan masyarakat adat yang dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman dan kebaikan adat pada dirinya. Pikiran positif  dan harapan mulia masyarakat adat benar-benar dapat dijaga dan dipertanggungjawabkan oleh pemilik mandat.

Paling tidak, apapun hasil pemilihan ketua DAD Kalteng nanti, tidak ada yang terpancing untuk meributkan dan memperebutkannya, apalagi mempersoalkannya di media massa. Jika ada hal yang dianggap bermasalah, silahkan penerima mandat atau peserta musda menyelesaikannya secara adat dan tertutup dalam forum musda itu.

Pastikan semua pihak menerima keputusan itu dan menyimpan rapat-rapat perdebatan, persoalan dan perbedaan yang terjadi selama proses Musda.

Ingat DAD bukan lah partai politik atau ormas terbuka. ia lembaga yang menggunakan simbol adat yang sangat sakral dan dijunjung tinggi. Pinggirkan dulu ego narasi, motivasi dan pikiran politik yang ada. Utamakan membangun kebersamaan dan kesatuan pandangan oleh peserta Musda   dalam memilih ketua dan pengurusnya.

Selamat Bermusyawarah

Dari Redaksi