Ritual Mandi Air Suci Ndoq Udip

Tari Enggang Dayak Kenyah. Foto : Neprona.com

Ritual Mandi Air Suci Ndoq Udip yang dilestarikan oleh suku Dayak Kenyah. Suku Dayak pada umumnya memiliki tradisi budaya yang unik dan menarik yang merupakan warisan dari para leluhur yang bernilai relijiwal, spritual dan ritual.

Seperti halnya suku Dayak Kenyah yang banyak mendiami wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Serawak Malaysia yang  memiliki ritual menjaga  kesucian diri kepada sang pencipta alam. Salah satunya adalah Ndoq Udip atau mandi air suci.

Dahulu kala, masyarakat Suku Dayak Kenyah menganut kepercayaan dengan menyembah dewa. Ritual dilakukan untuk mempersembahkan sesajen kepada dewa-dewa, baik di bumi dan di langit, yang menjaga manusia, agar masyarakat dilimpahkan keselematan, kesehatan dan rezeki dari hasil panen yang mereka tanam.

Upacara adat ini kerap digelar untuk membuang segala kesialan, menyembuhkan penyakit atau tolak bala. Misalnya, jika panen gagal karena kemarau panjang, maka para orangtua dulu menggelar Ndok Udip setiap tahun.

Sekarang, Ritual Ndoq Udip digelar hanya merupakan atraksi pertunjukan seni budaya untuk melestraikan dan menghormati tradisi nenek moyang. Yang biasanya dilaksanakan dan dipertujukkan di lamin adat.

Dikutip dari tribunnews.com,  Ritual Ndoq Udip dipimpin oleh Seorang Kepala Adat dari Suku Dayak Kenyah yang membaca mantra dan doa-doa kepada dewa.

Kemudian sang kepala adat menyembelih ayam atau unggas lainya, lalu darahnya dicampur dengan air suci.

Kemudian air itu yang tercampur darah unggas itu dipercikkan kepada para perempuan dan laki-laki.

Kepala adat juga menaruh beberapa telur di bilah batang pohon yang terbelah dua di bagian atasnya.

Setelah menjalani prosesi mandi air suci, kepala adat memimpin para perempuan untuk mengitari lokasi ritual yang dibatasi tali terbuat dari akar kayu atau rotan berbetuk segi empat.

Tali itu diikat pada batang-batang pohon yang ditanam di lapangan rumput. Lalu pada tali-tali itu digantung beberapa kulit kayu benuaq yang telah. Tujuannya untuk melindungi dari roh jahat serta virus penyakit.

Setelah Kepala Adat membaca mantra, 4 orang perempuan menari-nari (tarian pejawan dan tarian enggang), kemudian mereka mengitari lokasi ritual.

Ritual ini pernah digelar di sekitar arena panggung seni Skate Park untuk meramaikan perhelatan Pesta Adat Kutai Erau, 11 Juni 2015 lalu yang diliput oleh tribunnews.com.

Buat kamu Pewarta Tuyang Issue, jika ada sumber artikel dan referensi lainnya yang ingin menambahkan atau mengoreksi tulisan ini, kami sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin memperkaya kkasana keilmuan dan pengetahuan budaya Dayak melalui tulisan-tulisan yang bermanfaat.(*)

Kontributor : Yosef L