Perjuangan Damianus Nadu Melindungi Kawasan Hutan Adat, Berbuah Kalpataru Dari Pemerintah

Damianus Nadu (60), merupakan salah satu salah penjuang lingkungan dari kawasan hutan adat Pikul- Pangajid, Kabupaten Bengkayang, Kalbar – baru-baru ini menerima penghargaan Kalpataru dalam kategori Perintis Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, pada Rabu (13/10), di Jakarta.

Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan kepada mereka baik individu maupun kelompok yang dinilai berjasa dalam merintis, mengabdi, serta mengelola lingkungan hidup dan kehutanan.

Sebagai tabib hutan pikul, Damianus Nadu merupakan sosok penting di balik terjaganya kelestarian  hutan pikul di Desa Sahan. Dirinya merintis kegiatan penanaman berbagai macam jenis pohon bersama masyarakat adat di lahan kritis bekas eksploitasi perusahaan kayu dan pembalak liar dimulai sejak tahun 1996.

Di kawasan ini kemudian tumbuh dan terjaga  99 jenis pohon langka, seperti pohon meranti, tengkawang, teradu, ulin, gambri, dan lain-lain. Bahkan diameternya ada yang 7 meter, ada 28 jenis jamur, puluhan jenis anggrek, ada 6 air terjun, tanaman rempah, dan lain-lain.

Nadu mengatakan, dalam mempertahankan dan menjaga hutan adat di desanya, ia tidak sendirian. Hutan di sekitar masyarakat   sudah berubah alih fungsi lahan menjadi perkebunan. Ia bersama warga desa lainnya kompak mempertahankan hutan adat Gunung Pikul Pengajid yang luasnya hanya 100 hektare di desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang.

Apa yang mereka lakukan bukan  bertujuan mendapatkan penghargaan, melainkan tanggung jawab  mereka pada leluhur serta akan diwariskan kepada anak cucu  ke depannya.

Hutan adat yang selalu dijaga warga Desa Sahan itu banyak pohon tengkawang. Tanaman yang kini langka ini merupakan jenis unggul. Buah dari tengkawang berhasil mereka produksi menjadi minyak dan mentega yang berguna sebagai bahan baku kosmetik.

Nadu menceritakan, sejak awal tahun 80-an, perusahaan Kayu unit Usaha Militer Zaman Orde Baru beroperasi di sepanjangan perbatasan Malaysia-Indonesia PT Yamaker. Termasuk di Desa Sahan, Kecamatan Seluas. Namun, ia sudah berusaha mempertahankan hutan adat warisan leluhurnya di Dusun Malayang, Desa Sahan, Seluas Kabupaten Bengkayang.

Tidak mudah menghadapi perusahan milik militer, dia harus berhadapan dengan aparat agar hutan adatnya tidak ambil oleh perusahaan. Karena wilayah itu termasuk konsesi PT Yamaker. Ia menceritakan pernah saat subuh-subuh ia didatangi apara militer bersenjata lengkap akan menangkapnya.

Seluruh keluarganya sampai  menangis, namun  dia tenang menghadapi aparat militer bersenjata lengkap itu. Sempat akan dibawa ke kantor Koramil terdekat untuk negosiasi, namun dirinya tetap tidak mau. Ia sedikit melakukan perlawanan, Iadengan mengatakan jika aparat militer itu memaksa  mengambil sisa hutan masyarakat, ia dan masyarakat akan angkat lantak dan Mandau untuk melawan.

Akhirnya aparat itu pergi meninggalkan kediamannya. Pun, setelah itu, diceritakannya, ada banyak perusahaan silih berganti datang untuk mengambil kayu di kawasan hutan adat Pangajid-Pikul. Sampai-sampai untuk melindungi hutan adat itu dan memaksa perusahaan mundur dari kawasan hutan adat pikul pangajid , ia bersama  masyarakat harus menenteng senjata api Landak dan Mandaumenyerang fasilitas perusahaan.

Dengan  penghargaan yang diterima, ia berharap  dapat  memicu semangat menjaga kawasan hutan adat.

“saya mengucapkan terima kasih pihak-pihak yang telah mendukung perjuangan kami selama ini dalam menjaga kawasan hutan adat pangajid-pikul. Prestasi ini akan menjadi pemicu kami agar lebih semangat dalam menjaga kawasan hutan adat pangajid-pikul,” pungkas Nadu.(*)

Baca Juga : Ibu Kota Baru, Jaminan Tatanan Wilayah Adat Tak Tergerus Komersialisasi?