Perjanjian Damai Dayak Dusun di Pinangah

Bangsa Sundayak dari Kinabatangan, foto: Ben Randawi

DUSUN Dayak merupakan istilah yang dipakai oleh bangsa Inggris di tahun 1800-1900 untuk menyebut bangsa pribumi Dayak di Sabah, Malaysia. Penulis berkebangsaan Inggris sering menggunakan istilah “Sundayak” merujuk  penyebutan  “Dusun Dayak” di Sabah (Hewett, 1923:162).

Sedangkan, Istilah ” Dayak” pertama kali digunakan  Prichard (1836), untuk  mendefinisikan  istilah kolektif  semua suku kaum pribumi di Borneo (Prichard, 1836:89).

Penggunaan istilah ” Bangsa Dusun’ juga kerap digunakan untuk menyebut suku  dalam rumpun Dayak. Penulis Barat yang pertama menyebut Dusun sebagai “Dayak” adalah Marryat; Marryat pertama menjejakkan kaki di Borneo pada 4 Julai 1843 (Marryat, 1848:79). Di zaman dahulu, sebagian besar bangsa Dayak Dusun memiliki budaya headhunting, terutama kaum Dayak Dusun di kawasan pedalaman.  Akibatnya,  perang antara suku seringkali terjadi di daerah pedalaman, terutama antara di daerah Labuk dan Kinabatangan.

Lalu, siapkah  bangsa Dusun Dayak atau “Sundayak” di Labuk dan Kinabatangan?

Pada 1 Maret 1882, Hatton bertolak dari Sandakan ke Labuk. Setelah beberapa lama mengembara, Hatton masuk lebih dalam ke pedalaman pada 17 Maret 1882, di mana Ia memasuki  wilayah yang bernama “Tanah Dumpas” (yaitu wilayah kaum Dayak Dusun dari suku Dumpas) sebelum mereka sampai ke wilayah yang disebut “Sogilitan Country” (wilayah/negeri Sogilitan).

Didapat informasi bahwa Suku Dumpas takut memasuki wilayah suku Sogilitan karena adanya konflik antara mereka.

Menurut Hatton, di “Negeri Sogilitan” terdapat beberapa ribu kaum Dayak Dusun dari suku Sogilitan yang menguasai “Negeri Sogilitan”.  Hatton menyebut mereka dengan istilah “Sundayak Sogilitan” (Hatton, 1886:185-187).

Istilah “Sundayak” (Dusun Dayak) menurut Hatton adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bangsa Dusun di Sabah. Istilah tersebut dipakai untuk menyebut suku-suku Dusun di Labuk di kawasan Labuk dan Sugut, misalnya suku Sogilitan, termasuklah suku-suku Dusun di Kinabatangan seperti Tambanuo, Rumanau dan suku-suku Dusun di sekitar mereka (Pryer, 1894:90).

Pada tahun 1887, terjadi perang besar antara bangsa Sundayak di Labuk dan Kinabatangan. Catatan British North Borneo Herald  pada 1 Jun 1887 memuat  laporan dari Kapten Beeston, Komandan polisi Penjajah Inggris  ketika itu, yang ditujukan kepada pegawai perwakilan penjajah Inggris  di Sandakan.

Laporan tersebut menyebutkan mengenai “Ekspedisi 50 Hari” yang terdiri dari Kapten Beeston dan 40 polisi Inggris dalam misi untuk mendamaikan suku-suku yang berperang di Sungai Kinabatangan dan Sungai Labuk.

Menurut catatan Kapten Beeston, dalam perang tersebut, kedua-dua pihak menjalankan tradisi “mangayou” (memburu kepala); masing-masing ingin menyamakan jumlah kepala yang mereka penggal.

Bangsa Sundayak di Labuk dikatakan telah mengayau  sekitar 22 tengkorak, atau lebih banyak dibanding dengan yang diperoleh oleh suku-suku Sundayak di Kinabatangan, sehingga  menyebabkan suku-suku Sundayak di Kinabatangan ingin menyamakan jumlah tersebut atau bahkan memperoleh lebih dari itu.

             Baca Juga : Bulan Malan, Agama Leluhur Dayak Kenyah

Maka mereka menyerang suku yang terdesak  di Sungai Labuk. Ketika Kapten Beeston sampai di Kinabatangan, suku-suku Sundayak di Kinabatangan baru saja berhasil  mendapat 4 kepala musuh. Artinya,  lawan mereka masih memiliki kelebihan  18 tengkorak dari  mereka.

Laporan tersebut juga mengatakan, bangsa Sundayak di Labuk secara keseluruhan telah memenggal 82 kepala musuh, sementara bangsa Sundayak di Kinabatangan hanya mendapat 60 kepala, kurang 22  tengkorak dibanding  bangsa Sundayak di Labuk. Ketika mereka  mendapat 4 kepala, maka agar adil, mereka masih harus menambah 18 kepala lagi untuk menyamakannya .

Suku-suku Sundayak yang terlibat dengan konflik adalah suku Sogilitan, Tompulung, Dumpas, Mangkaak, Rumanau, Tambanuo, Sinabu dan Putih.

Suku-suku Sundayak seperti Sogilitan, Tompulung, Dumpas, Mangkaak dan Putih adalah Sundayak yang bertutur bahasa Dusunik, sementara suku Rumanau, Tambanuo dan Sinabu bertutur dialek Paitanik. Secara susur galur, bangsa Sundayak dari suku Sogilitan, Tompulung dan Putih merupakan bangsa Sundayak dari keturunan Nunuk Ragang dari susur galur Tinggoron, salah satu leluhur Bangsa Dayak Dusun dari Nunuk Ragang (Shim, 2007:114).

Dengan pertimbangan pertumpahan darah yang hebat di antara suku-suku Sundayak di Labuk dan Kinabatangan, maka “Ekspedisi 50 Hari” dilancarkan. Pada 19 Maret 1887 Kapten Beeston, W. F. Mosse, Banjer (penerjemah) dan 40 anggota polisi Inggris bertolak  ke Kinabatangan untuk bertemu dengan ketua-ketua bangsa Sundayak.

Pada 29 April 1887, sekitar 300 pasukan perang bangsa Sundayak Kinabatangan dari suku Rumanau, Mangkaak, Sinabu, Tambanuo, dan lainnya,   datang menemui  Kapten Beeston untuk membincangkan mengenai pertumpahan darah yang terjadi antara mereka dengan bangsa Sundayak dari Labuk, yaitu Sundayak Sogilitan. Mereka belum puas, dan ingin meneruskan peperangan, untuk menyamakan  jumlah kepala  yang diperoleh Sundayak Sogilitan.

Kesepakatan Damai

Meski demikian, akhirnya setelah dibujuk, mereka menyatakan bersedia mengakhiri perang dan tunduk pada  undang-undang Inggris .  Kapten Beeston lalu mengirimkan surat kepada Datu Pangeran Mamangku Negara, seorang pembesar dari Kuala Sungai Labuk yang memiliki hubungan baik dengan suku Sogilitan untuk datang membantu menyelesaikan permasalahan. Datu Pangeran Mamangku Negara kemudian datang ke Telupid membawa enam orang ketua suku Sundayak Sogilitan. Setelah itu, Kapten Beeston mengatur pertemuan  antara ketua-ketua suku dari belah pihak (pihak Sundayak Labuk dan Sundayak Kinabatangan).  Aadapun, ketua-ketua bangsa Sundayak yang terlibat adalah :

  1. Paduka : ketua Sundayak Sogilitan dari Sogilitan
  2. Panghulu Sumbun : ketua Sundayak Sogilitan dari Sogilitan
  3. Kambaking : ketua Sundayak Sogilitan dari Sogilitan
  4. Barsa : ketua Sundayak Sogilitan dari Sogilitan
  5. Awang Said : ketua Sundayak Sogilitan dari Pau
  6. Bulunggan : ketua Sundayak Sogilitan dari Sanggar
  7. Panshin : ketua Sundayak Rumanau dari Pinangah
  8. Galokar : ketua Sundayak Mangkaak dari Kinabatangan
  9. Tongod : ketua Sundayak Sinabu dari Tongod
  10. Panglima Darmatuan : ketua Sundayak Tambanuo dari Koromuok
  11. Kapitan Agip : ketua Sundayak Tompulung dari Tompulung
  12. Orang Kaya Satanda : ketua Sundayak Dumpas dari Rungas

Di dalam perbicaraan dan upacara perdamaian yang dukung  oleh Kerajaan Inggris di Pinangah, Kinabatangan tersebut, Banjer dijadikan juru bahasa dalam perbicaraan yang berlangsung selama satu jam lebih. Hasil daripada kesepakatan perbicaraan adalah sebagai  berikut :

  1. Bangsa Sundayak Sogilitan dari Labuk didapati bersalah kerana menjalankan kebiasaan “misangod” dan “mangoyou”(perang dan memburu kepala), di mana mereka telah memenggal 22 kepala melebihi dari bangsa Sundayak di Kinabatangan. Artinya bangsa Sundayak Labuk masih memiliki kelebihan 18 kepala diabnding sangsa Sundayak Kinabatagan yang hanya memperolehi empat kepala musuh. Oleh karana itu, denda yang dikenakan kepada bangsa Sundayak Labuk (Sogilitan) adalah mereka harus membayar denda adat yang biasa disebut“sogit” berupa 100 jenis barang untuk setiap 18 kepala yang mereka penggal, yaitu satu kepala untuk satu bulan selama 18 bulan.
  2. Sementara itu Datu Pangeran Mamangku Negara juga dianggap bersalah karena mengikuti kegiatan memburu kepala dan memenggal sebanyak 5 kepala suku Putih, maka dia diminta untuk membayar denda kepada suku Putih.

Setelah kedua-dua belah pihak sepakat dengan hasil perbicaraan, maka ritual yang oleh kaum Dusun disebut “mitaruh” dijalankan dengan menandai  kayu dan mengorbankan sejumlah hewan. Kedua-dua belah pihak kemudian bersumpah untuk menghentikan kebiasaan   “misangod” dan “mangayou” dan berjanji untuk patuh kepada undang-undang pihak kerajaan Inggris. Setiap ketua-ketua suku kemudian saling bersalaman tangan dan masing-masing menghisap “sigup” (rokok tradisi Dusun) sebagai tanda selesainya perbicaraan dan upacara perdamaian “mitaruh”.

Upacara perdamaian itu ditutup oleh Kapten Beeston dengan upacra mengibarkan bendera Inggris dan tiga dos tembakan ke udara. Setelah itu, masing-masing ketua suku dengan pasukan perang mereka kembali ke wilayah masing-msing. Demikianlah upacara Perjanjian Damai Pinangah dilaksanakan, dan setelah itu bangsa Sundayak (Dusun Dayak) baik di Labuk dan Kinabatangan mulai  belajar untuk saling hormat menghormati dan hidup harmoni, sampailah  hari ini.

Oleh :  Ben Randawi

Editor: Tuyang Issue

 

Catatan:

  1. Artikel ditulis dan disusun dari pelbagai sumber refrensi.
  2. Gambar oleh Martin dan Osa Johnson, 1937.
  3. Sumber :  facebook Ben Randawi