Pendekatan Adat dan Budaya, Edukasi Hukum Bagi Warga Dayak

 

VIRAL Akun  Facebook Hagai Kristian Ajoy  Ancam Bunuh Gubernur Kalteng Sugianto Sabran.

Postingan sebuah akun  Facebook Hagai Kristian Ajoy (HKA) pada Grup Penyedot yang mengancam Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Sugianto Sabran dan Presiden Jokowi. Sontak postingan itu menjadi viral dan mendapat kecaman dari masyarakat.

Beberapa organisasi masyarakat (Ormas) Dayak pun menyesalkan ancaman dan penghinaan itu. Mereka meminta Tim Cyber Polda Kalteng menindaklanjuti kasus ini.
Respon menarik dan berbeda malah ditunjukan Gubernur Sugianto Sabran. Ia hanya menanggapi santai ancaman pembunuhan itu.

“Itu wajar, mungkin dia sedang banyak tuntutan kehidupan. Namun cukup disayangkan dengan kata-kata yang turut mengancam Presiden, sangat bertentangan dengan falsafah dan kepribadian kita orang Dayak,” ujar Gubernur seperti dikutip dalam keterangan tertulis Diskominfo Kalteng, Rabu, 3 November 2021.

Ancaman yang diposting HKA diduga berkaitan dengan adanya program hilirisasi oleh Gubernur Sugianto untuk mengoptimalisasikan dan meningkatkan nilai guna pengelolaan sumber daya alam, terutama tambang emas tradisional di Kalimantan Tengah.

“Hilirisasi yang dicita-citakan untuk kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah, bukan untuk mensejahterahkan segelintir orang saja dan menyisakan dampak buruk khususnya bagi masyarakat setempat,” jelas Sugianto Sabran.

Sikap santai Sugianto Sabran dalam merespon  ancaman itu patut diapresiasi, tanggapannya malah dapat dikatakannya sebagai sebuah edukasi pemimpim kepada warganya. Penggunaan narasi “falsafah dan kepribadian kita orang Dayak” mencerminkan bahwa beliau sendiri mengharapkan agar warga Dayak mengedepankan falsafah dan adat budaya dalam menghadapi setiap persoalan.

Pentingnya Pendekatan Adat

Narasi yang disampaikan oleh Sugianto seharusnya dapat diterjemahkan oleh ormas-ormas Dayak dan lembaga adat Dayak lainnya untuk mengambil langkah -langkan pendekatan adat dan budaya dalam menyikapi persoalan ini. Pertama, melakukan komunikasi dengan terduga pelaku yang merupakan anak muda Dayak yang harus dibina melalui pendekatan adat. Kedua,  komponen adat dan ormas Dayak dapat membantu mengsosialisasikan program hilirisasi dan optimalisasi pengelolaan sumber daya alam itu kepada segenap warga Dayak yang ada di Kalteng.

Jika mau jujur, persoalan-persoalan antara sesama warga Dayak merupakan ujian sesungguhnya bagi masyarakat Dayak dalam menata dan menjunjung hukum adat di daerah ini. Tidak lantas setiap kesalahan harus langsung diselesaikan melalui hukum positif.

Singkatnya, bila  menyangkut hukum positif sudah pasti pelaku harus mempertangungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Tetapi, sebagai seorang kakak dan orang tua yang mengerti adat dan memiliki wawasan yang lebih luas, wajiblah mengetahui dan mendalami persoalan yang dihadapi oleh pelaku. Apa yang memotivasi ia melakukan pelanggaran hukum? Bagaimana kondisi keluarganya dan lingkungan adat dan budayanya? Tidakkah yang  bersangkutan mengalam persoalan kesehatan baik psikis dan mental? Komunikasi bisa dibangun melalui lembaga adat terkecil di desa atau tetua adat yang ada dilingkunganya.

Tidak hanya mengecam, namun ormas-ormas Dayak tersebut seharusnya pro aktif mendorong dan menginisiasi proses adat melalui pendekatan, pembinaan dan edukasi yang positif buat masyarakat, terlebih bagi pelaku. Toh, sebagai warga Dayak tak sulit untuk membangun hubungan dan pendekatan sesama warga Dayak. Jika pun ternyata hubungan dan pendekatan itu tak bisa terjalin, berarti ada persoalan dengan tatanan adat dan budaya yang selama ini kita bangun.

Persoalan-persoalan antara warga Dayak selalu menjadi ujian terbesar bagi lembaga adat dan ormas Dayak selama ini. Ketidakmampuan kita menyelesaikan persoalan sesama warga Dayak, atau hanya berpaku pada penyelesaian hukum negara, perlahan akan mendegradasi adat itu sendiri dan mengelaminir kepercayaan dan kebersamaan kita sesama warga Dayak.

Maka itu, persoalan ini adalah momentum hadirnya lembaga adat dan ormas-ormas Dayak. Kehadiran lembaga dan ormas Dayak di saat warganya menghadapi persoalan, tentu akan menanamkan keyakinan dan kesadaran dari masyarakat akan pentingnya lembaga adat dan ormas-ormas Dayak dalam kehidupan mereka. Bravo Dayak terus bersatu dan bersaudara.

Hagai Kristian Ajoy

Tidak banyak yang bisa diungkapkan terkait informasi HKA dari profi facebooknya. Dari info akunnya, Ia tinggal di Palangkaraya dan pernah bersekolah di SMKN 1 Palangkaraya. Postingan terakhirnya tanggal 1 November 2021, sebuah video yang menampilkan dirinya ketika  sedang bernyanyi. Penulis sendiri sempat menanyakan kabar pelaku dan ingin mewawancarainya melalui kolom komentar postingan facebooknya, namun belum mendapat jawaban.

Kita semua berharap identitas HKA bisa terungkap dengan jelas, namun lebih dari itu Lembaga Adat dan Ormas Dayak sebaiknya yang mengungkapkan dan mengumumkannya.

Oleh;Semuel Satin

Baca Juga :

Pentingnya Pemilihan Diksi Yang Tepat Pelajaran Untuk Pemprov