Pelengakapan dan Seserahan Upacara Perkawinan Adat Dayak Kenyah

Upacara perkawinan Adat Dayak Kenyah bisa dibilang cukup sederhana. Pemberian seserahan calon pengantin laki-laki kepada calon pengantian wanita  disesuaikan dengan kebutuhan mereka kelak mengarungi rumah tangga. Setiap barang yang diserahkan  memiliki  arti masing – masing, misalnya mandau dapat dimaknai untuk membersihkan perjalanan kehidupan keluarga supaya tidak ada gangguan dari luar, guci dapat diartikan sebagai wadah dimana suami istri itu akan kompromi dan membahas rencana untuk masa depan yang sukses, atau seraong dimaksudkan sebagai tempat bernaung pasangan  pengantin akan  derasnya badai kehidupan.

Dikutip dari situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id, dari upacara adat perkawinan suku Dayak Kenyah di Desa Long Noran dan Long Segar, Kec. Muarawahau, Kab. Kutai Timur, Prov. Kalimantan Timur,  sejumlah   perlengkapan dan barang-barang tanda ikatan (mas kawin) yang biasa digunakan ketika penyelengaraan upacara adat perkawinan suku Dayak Kenyah. Alat perlengkapan tersebut di antaranya:

1. Taweq

Taweq.Foto: Perpustakaan.id

Taweq, sejenis gong yang digunakan untuk kedua mempelai duduk bersanding (batek selap). Ukuran taweq untuk tempat duduk pengantin laki-laki sedikit lebih besar jika dibandingkan dengan taweq yang diperuntukkan bagi pengantin perempuan. Jika pengantin tergolong orang yang mampu, biasanya di bagian kaki kedua mempelai juga diletakkan taweq. Biasanya disediakan pula beberapa taweq yang disusun berderet di halaman muka rumah sampai di depan pintu masuk pengantin perempuan, mulai dari taweq yang berukuran kecil hingga yang terbesar. Pengantin laki-laki akan meniti deretan taweq tersebut sebelum masuk ke ruangan dan bertemu dengan pengantin perempuan.

2) Alat-alat perlengkapan berladang dan berburu

Alat-alat perlengkapan berladang dan berburu, seperti mandau/parang, perisai, seraung (topi), dan tombak, digantungkan di dinding bagian belakang tempat pengantin bersanding. Bagi golongan bangsawan, dekorasi ini bisa juga dilengkapi dengan peralatan lain yang terbuat dari manik-manik (aban), seperti bening aban (gendongan anak) dan beloko aban (topi) serta keperluan kebangsawanan sehari-hari baik untuk pengantun perempuan maupun keluarganya.

3) Kelebeu

Kelebeu, yaitu rautan kayu Kiran atau Tebukau yang berbentuk seperti tumpukan kertas yang digulung melingkar-lingkar dan diberi warna merah. Dahulu, warna merah ini diambil dari binatang ternak yang telah disembelih untuk keperluan pesta adat perkawinan tersebut, misalnya hewan ayam, sapi dan babi. Warna merah ini bukan sekadar sebagai alat untuk menarik perhatian dan menimbulkan suasana yang formal, tetapi mengandung perlambangan harapan agar kedua mempelai dapat hidup rukun dan berbahagia dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.

4) Seserahan (Mas Kawin)
Benda-benda yang diserahkan oleh pihak pengantin laki-laki sebagai tanda ikatan (mas kawin), seperti antang (guci), mangkok, beluko jangin (piring kecil yang terbuat dari kuningan), uleng safeu (kalung dari manik-manik), sapai aban (baju sulaman yang diberhiasan manik-manik), taah (sarung perempuan berhias manik-manik), serta semacam kalung yang terbuat dari gigi taring beruang atau macan yang diselingi dengan uang logam. Gigi taring macan atau beruang ini merupakan simbol dari keberanian macan dan beruang untuk mempertahankan dirinya di tengah lingkungan alam yang sangat buas, yang diteladani oleh orang-orang Dayak Kenyah.

Dalam bahtera rumah tangganya kelak, diharapkan kedua mempelai juga selalu mampu menghindarkan diri dari segala rintangan, tantangan, gangguan dan malapetaka sehingga mereka dapat hidup langgeng dan berbahagia sampai akhir hayatnya.

5) Piring Putih dan Ramuan Serat Kayu Kirau

Sebuah piring putih yang berisi ramuan-ramuan yang telah diaduk dengan air serta serat kayu Kirau bewarna merah. Dalam upacara perkawinan adat suku Dayak Kenyah, serat kayu Kirau digunakan oleh kepala adat saat mengucapkan mantera dan doa pujian.

Pada dasarnya perlengkapan upacara, khususnya taweq, yang telah disebutkan di atas hanya akan ditemukan pada upacara perkawinan yang dilakukan oleh orang Dayak Kenyah yang berasal dari golongan bangsawan (paren). Bagi pengantin yang berasal dari golongan masyarakat biasa (panyin), perlengkapan upacara perkawinan yang digunakan memilik sedikit perbedaan dengan golongan paren. Mempelai laki-laki dan perempuan yang berasal dari golongan panyin, tidak menggunakan taweq sebagai tempat bersanding. Mempelai umumnya cukup duduk di atas bangku yang dibuat secara khusus, atau di atas tikar lampit yang dibuat dari daun pandan. Sedangkan perlengkapan upacara lainnya hampir sama, meskipun ragam dan bentuknya lebih sederhana.

Perkawinan Adat Dayak Kenyah Lepo Tau (Pekiban)

Pekiban, Upacara Perkawinan Dayak Kenyah Lepo Tau . Foto : Youtube Asie Mikha

Catatan dalam situs kebudayaan.kemendikbud.go.id, menjelaskan Pekiban merupakan acara adat Perkawinan Adat Kenyah Lepo Tau tahap awal pernikahan adat adalah dijemputnya calon mempelai wanita menuju rumah calon mempelai laki-laki untuk diperkenalkan kepada keluarga. Dalam penjemputan tersebut diserahkan “SUA FA” atau sebilah parang sebagai wujud keseriusan calon mempelai laki-laki.

Setelah tiba di kediaman laki-laki maka disambut dengan tari-tarian. Setelah tiba maka dilaksankan prosesi pekiban yang dipimpin oleh tua-tua kampong dengan peran khusus yang disebut “Pengulo” adat pekeiban.

Dalam pelaksanaan upacara adat pernikahan Pekiban wajib disediakan property anatara lain Tempayan sebagai lambaang kesatuan hati, Batu Jala/Batu Ampit tidak terpisahkan, tikar atau Pat bermakna menggutamakan musyawarah untuk duduk bersama menyelesaikan masalah yang terjadi, Sua Fa atau sebilah parang mengambarkan untuk membersihkan jalan kedua mempelai anatar keluarga mempelai, untuk memotong penghambat yang akan merusak hubungan kekeluargaan keluarga besar mempelai laki-laki dan perempuan.

Memulai pekiban kedua mempelai dipersilakan oleh pemimpin upacara adat untuk duduk pada gong kecil/tawek dan bersama-sama memegang parang dan sambil menginjak parang berikutnya sebagai komitmen dalam sebuah ikatan perkawinan yang sah dalam acara tersebut dilaksanakan juga untuk melihat masa depan kedua mempelai baik atau banya rintangan yang akan di hadapi upacara ini disimbulkan melalui pemotongan babi untuk dilihat pada hati babi tersebut menurut keyakinan akan terlihat tanda-tanda tersendiri.

Akhir dari kegiatan pernikahan tersebut para tua-tua akan melakukan siraman penyejuk kepada kedua mempelai dan semua undangan yang hadir.

Bagi pewarta Tuyang issue yang memiliki referensi daninformasi pembanding lain, silahkan dikoreksi dan ditambahkan tulisan ini, dengan mengirim artikel ke tuyangissue.id.(*)

Kontributor : Yohanes L

referensi : warisanbudaya.kemdikbud.go.id