Panglima Jilah, Tokoh Dayak Lintas Wilayah

KEHADIRAN Panglima Jilah sebagai pembicara dalam dialog para jurnalis televisi IJTI Kalimantan Tengah (Kalteng) beberapa waktu lalu, sedikit banyak menimbulkan respon yang beragam dari sejumlah kalangan Dayak di Kalteng. Meski ada segelintir  suara sumbang, namun tak dapat menutupi  rasa bangga seluruh pendukung dan simpatisan PanglimaJilah di Kalteng  atas kepercayaan yang diberikan oleh kawan-kawan IJTI Kalteng, yang berkenan menghadirkan panglima Jilah sebagai salah satu narasumber.

Kepercayaan itu  setidaknya mempertegas pengakuan masyarakat luas akan kiprah dan eksistensi Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) sebagai organisasi Dayak yang bersahabat, humanis, bermanfaat dan beradat.

Relasi media seperti ini harus terus dibangun oleh TBBR untuk menggaungkan dan mengglorifikasi pemikiran-pemikiran Panglima Jilah dalam mengangkat adat dan budaya Dayak.
Kepercayaan kaum intelektual di bidang informasi seperti wartawan IJTI, membuktikan panglima Jilah merupakan tokoh yang layak dipercaya dan berpengaruh di tengah masyarakat Dayak.

Independensi, kepedulian dan keberaniannya dalam memperjuangkan masyarakat selama ini dinilai mampu memberi inspirasi dan pilihan baru bagi generasi muda yang mengalami kejenuhan atas manuver dan retorika sejumlah oknum elite Dayak, yang menjual pengaruh adat hanya demi bargaining politik dan kepentingan pribadi, serta abai terhadap persoalan masyarakat Dayak yang ada di bawah.

Berbanding terbalik dengan apa yang  ditunjukan oleh Panglima Jilah. Kesederhanaan, keberanian, kepedulian dan perjuangannya bersama TBRR selalu turun membela dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat paling bawah sekalipun.

Jadi, tidak salah jika hari ini, banyak kalangan intelektual muda, pengusaha muda dan politisi muda yang idealis ikut bergabung di ormas TBBR, untuk bersama-sama Panglima Jilah memperjuangkan martabat adat Dayak di Tanah Borneo.

Meski demikian, tetap saja ada pihak-pihak yang merasa tersaingi dan tidak nyaman dengan situasi ini, misalnya pihak yang mengkritik langkah  ITJI Kalteng yang mengundang Panglima Jilah sebagai pembicara. Dinarasikannya, seperti tidak ada tokoh Dayak lainnya di Kalteng sehingga harus mengundang Panglima Jilah yang merupakan warga Kalimantan Barat (Kalbar).

         Baca Juga : Panglima Jilah Ajak Generasi Muda Cintai Adat Budaya

Ada kekuatiran atas narasi kritik ini digunakan untuk menekan panitia penyelenggara, namun kita berharap ini sebatas kritik karena persoalan ketidakfahaman saja. Orang-orang yang memiliki pandangan sempit seperti itu, harusnya memahami bahwa Panglima Jilah itu merupakan tokoh nasional dan internasional. Ia tidak saja dimiliki semua masyarakat Dayak yang ada di Indonesia, tetapi juga masyarakat Dayak di Malaysia. Ormas TBBR yang dipimpin telah menyebar hampir seantero tanah Borneo, termasuk Sabah dan Serawak. Ia merupakan tokoh Dayak yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat wilayah dan sub kesukuan. Dan, semua warga di luar Dayak pun menyadari dan mengakui akan hal ini.

Maka itu jangan heran, kehadirannya tak saja diharapkan oleh para pengikutnya di seluruh dunia, tapi juga oleh organisasi dan komunitas masyarakat lainnya di luar Dayak. Jadi,  logika yang salah dan tidak relevan jika membandingkan Panglima Jilah dengan tokoh daerah. Kita harus mengerti, setiap organisasi atau komunitas masyarakat yang akan menyelenggarakan kegiatan tentu ingin menghadirkan tokoh-tokoh terkenal baik nasional maupun dunia. Kehadiran tokoh-tokoh itu tentu akan menambah nilai dan gengsi acara dan organisasi tersebut.

Jadi persoalannya, bukan menarasikan seolah-olah di Kalteng tidak ada tokoh Dayak yang kompeten, tetapi ini soal pilihan dan hak sebuah organisasi dalam menilai kepentingannya dan figur tokoh yang dihadirkan. Jadi tidak elok jika kita ikut mengutak atik dan mencampuri kepentingan organisasi lain. Disinilah sikap kita harus menghargai perbedaan.

Lagi pula, kebebasan kita membentuk ormas Dayak yang beragam dan banyak saat ini harus dimaknai sebagai aktualisasi dan partisipasi kita terhadap kepentingan masyarakat. Jangan membatasi dan menghalangi masyarakat untuk menilai ormas mana yang mereka pilih dan dianggap paling berkontribusi. Jika anda berfikir mendirikan ormas hanya untuk gagah-gagahan dan harus diakui secara eklusif, maka jangan heran, anda semakin ditinggal oleh masyarakat.

OLEH : YUSNENG DEHEN

Ayo, kirim opini dan tulisanmu dalam bentuk apa saja ke Tuyang Issue