Panglima Jilah Ajak Generasi Muda Cintai Adat Budaya

Panglima Jilah Ketika Menjadi Pembicara Dialog IJTI Kalteng. Foto : Jurnalborneo

SENIN KEMARIN ( 21/11) bertempat di Gedung IJTI Kalimantan Tengah (Kalteng),  Pangalangok atau Panglima Jilah hadir  sebagai pembicara di hadapan para Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalteng dalam dialog terbatas bertajuk “Dialog Budaya dan Tradisi Adat Dayak dalam Bingkai Kearifan Lokal untuk menuju Kalimantan sebagai Tanah Berkah Indonesia.

Tokoh Muda Dayak yang  merupakan pemimpin besar pasukan merah Tariu Borneo Bangkule Radakng (TBBR)  itu selama ini dikenal sangat peduli dan gigih memperjuangkan adat, tradisi dan budaya Dayak.

Pria  yang memiliki nama asli Agustinus dalam paparannya,  mengatakan adat budaya dan tradisi Dayak sangat penting ditanamkan kepada generasi muda supaya tatanan sosial masyarakat terbangun. Karena tatanan sosial itu mengatur manusia supaya lebih baik. Oleh itu, ia mengajak masyarakat Kalimantan  bersama-sama mengangkat adat ,budaya dan tradisi  Dayak.

“Saya mengajak teman-teman yang punya misi-visi dan tujuan yang sama untuk mengangkat adat, budaya dan tradisi masing-masing agar lebih dicintai oleh generasi muda,” katanya dengan penuh semangat.

 Dia menambahkan bahwa dengan mencintai adat, budaya dan tradisi tentunya akan menjadi suatu rutinitas dalam keseharian. Sehingga pada saatnya nanti hal tersebut akan berpengaruh pada sektor perekonomian, sebagai contoh membuat ukiran kayu, anyaman dan menari yang dapat menjadi salah satu sektor usaha pada bidang seni.

“Kita berharap mampu dan berdaya saing dengan orang lain, memberikan edukasi tentang adat, budaya dan tradisi kita agar lebih dicintai lagi,” ucap Panglima Jilah.

                 Baca Juga : 2021 Seluruh Kalimantan Sudah Dilanda Banjir

Kemudian nantinya tradisi, adat dan budaya tersebut tentu menjadi salah satu nilai tambah dan dapat di promosikan kepada masyarakat baik itu secara nasional maupun internasional sehingga nantinya Kalimantan dapat menjadi tanah yang berkah.

“Dimata nasional, suku Dayak mempunyai budaya dan adat yang masih terjaga hingga saat ini. Tapi orang melihat hanya luarnya saja, tetapi sebenarnya itu hampir hilang. Nah, supaya tidak hilang mari mulai saat ini mari kita mencintai dan mengembangkan budaya dan adat Dayak itu sendiri agar tak hilang ditelan zaman,” ucap Panglima Jilah.

Lebih lanjut ia mengingatkan Kita boleh berbeda tetapi perbedaan itu jangan kita dijadikan permusuhan. Perbedaan itu kita jadikan suatu warna yang indah, suatu kekuatan yang hebat supaya bisa membangun Kalimantan ini untuk lebih baik ke depannya. Itu dicapai dengan adat bukan dengan agama karena adat itu takdir sedangkan agama adalah pilihan.

“Dan tujuan saya adalah mengangkat identitas, jati diri kita, kebanggaan kita sebagai masyarakat adat dan untuk menjadi benteng pertahanan kita sebagai masyarakat adat,” tegasnya.

Bagi kalangan muda Dayak,  Panglima Jilah dapat menjadi inspirasi  dalam memperjuangkan identitas bangsa Dayak. Jangan tergiur oleh  jabatan politik dan fasilitas mewah perusahaan, berjuanglah dahulu demi identitas adat, tradisi dan budaya Dayak.

Dengan mengembalikan adat, tradisi dan budaya dayak sebagai tatanan kehidupan kita, berarti kita akan mengembalikan keseimbangan dan harmonisasi    alam Borneo dengan  bangsa Dayak  yang dibangun oleh para leluhur kita. Dengan harmonisasi itulah makan Tuhan akan selalu melindungi dan memberi kesejahteraan dan keselamatan bagi bangsa Dayak.(*)