Motivasi Agro Cempedak

SEJAK tahun lalu saya terkaget-kaget dengan pasar buah Cempedak, dan ada yang bilang buah ini sebagai nangka hutan.

Bayangkan 3-5 tahun lalu ketika buah Cempedak ini sedang musim-musimnya, banyak yang  terbuang percuma atau bahkan ditinggal busuk di pohon. Salah satunya  karena dipetiknya tidak seimbang dengan jerih lelah yang oleh pengepul hanya dihargai dua ribu rupiah per bijinya baik buah yang  besar maupun  yang kecil, bahkan kadang hanya dihargai  seribu tiga.

Sekarang sudah lain ceritanya kawan, pasar buah Cempedak sudah sama dengan pasar buah durian lokal, harganya sudah lumayan mahal, berada di kisaran seratus per tiga buah. Dan, harga  dari  pengepul juga sudah lebih layak, diambil di kisaran harga sepuluh ribu hingga dua puluh ribu per buah.

Astaga. Entah pertanda apakah ini? apa karena musim hujan yg begitu panjang menghujam bumi Berneo ini sehingga pohon pada mengkerut kedinginan malas berbuah ataukah mungkin si cempedak sudah mendapat gairah pasarnya.

Bagi saya sebagai praktisi pertanian ini pertanda baik bagi petani dan menjadi salah satu tambahan komoditi unggulan petani yang sangat layak di budidayakan karena proses pembibitan, penanaman, perawatan hingga panen tidaklah serumit durian bahkan bibit lokal . Dari biji pun kadang 3-4 tahun sudah mulai berbuah tergantung perawatan.

Karena saya sangat yakin makin kedepan akibat kebun sawit membabi buta menghancurkan hutan, lembo Cempedak bakal makin langka ditambah lagi Ibu Kota Negara yang akan segera dibangun  di Kalimantan Timur,  maka jutaan mulut baru penggemar Cempedak bakal datang pasar makin menggila kawan.

Ayo segera tanam jangan tunggu biarkan pekarangan kita merana ditumbuhi semak duri saja kawan!

Salam Gerakan Petani Rakyat Sejahtera.

EV. Petrus Satian, C.Min, S.Sos