Konektivitas Kawasan Wisata Pulau Derawan Dengan Kawasan Wisata Bulungan (2)

Pada prinsipnya pembangunan konektivitas kawasan wisata Pulau Derawan dengan Kawasan Wisata Bulungan memiliki tujuan. Pertama, menjadikan Kawasan Wisata Pulau Derawan sebagai levarage (dayak ungkit) dan trigger (pemicu) bagi  perkembangan kawasan wisata di Bulungan. Kedua, memberi akses kepada  ratusan ribu wisatawan dari kawasan wisata Pulau Derawan berkunjung ke kawasan wisata Bulungan. Ketiga, sebagai promosi potensi  wisata Kabupaten Bulungan melalui wisatawan kawasan Pulau Derawan. Keempat, pada akhirnya desa-desa wisata di kawasan wisata Bulungan menjadi  destinasi  utama kunjungan wisatawan pada konektivitas kedua kawasan wisata tersebut.

 

JIKA  kita melihat kesiapan dan ketersedian infrastruktur penunjang konektivitas tersebut, sebenarnya tidaklah terlalu banyak yang harus  dilengkapi dan dibangun Pemda Bulungan, atau Pemprov Kaltara, sehingga secara umum dapat menghemat anggaran daerah.

Pertama, Infrastruktur Jalan 

Pada dasarnya akses jalan dari Tanjung Selor ke Mangkupadi  sudah  terhubung. Pemda hanya tinggal merehabilitasi dan merekontruksi fisik  jalan yang sudah ada,  agar jalan yang digunakan dapat memperpendek  waktu dan jarak tempuh dari dan ke antar kawasan wisata tersebut. Kawasan wisata mangkupadi di  sepanjang pantai menujui tanjung batu dapat dibangun infrastruktur jalan.

 Kedua, Akses Penyeberangan

Menyediakan  dermaga penyeberangan dan kapal cepat bagi wisatawan untuk menuju dari dan ke Mangkupadi- Derawan. 

Pemda dapat memulai pembangunan fasilitas dermaga yang yang benar-benar representatif, modern dan iconik,   yang dapat memberikan  daya tarik, kenyamanan dan rasa aman bagi wisatawan

Sedangkan kesiapan armada penyeberangan,  seperti kapal cepat atau speed board, tidak perlu dibiayai pemda, tinggal menyerahkannya  kepada  pihak swasta. Pemda hanya perlu  memberikan insentif dan kemudahan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi layanan ini.

Ketiga, Kesiapan Desa Wisata

Ini yang menjadi kunci utama bagi suksesnya  konektivitas kawasan wisata tersebut. Dalam praktiknya, pemerintah dapat melibatkan perusahaan-perusahan tambang dan perkebunan yang ada di sepanjang wilayah ini untuk mendukung bahkan membiayai pengembangan desa- desa wisata tersebut.

Ini dilakukan, agar pada saatnya nanti , desa-desa wisata di kawasan inilah yang menjadi  tulang punggung kepariwisataan  di Bulungan, termasuk menjadikannya sebagai destinasi  utama dalam  konektivitas kedua kawasan wisata tersebut.

Pengembangan desa-desa  wisata itu juga sejalan dengan tren  dan motivasi berwisata masyarakat  saat ini, terutama wisatawan mancanegara dan traveler muda yang gemar menikmati tempat-tempat wisata wisata yang  ikonik dan  etnik dalam suasanan alam pedesaan. 

Selain itu, dengan adanya pengembangan desa wisata di kawasan ini,  akan tumbuh kluster desa-desa yang berbasis keunikan dan    keunggulan namun  saling mendukung dan bertautan. Misalnya, Desa Jelarai menjadi basis seni budaya dan kriya  khas Dayak Kenyah Lepu Kulit, sedangkan Desa Metun Sajau untuk basis seni budaya dan kriya  Dayak Kenyah Bakung. Atau, Desa A memasok produk pendukung seperti kerajinan dan kesenian lokal untuk Desa Wisata B.

Masyarakat lokal harus diberdayakan  dalam pengembangan desa wisata. Jangan sampai  terjadi pengabaian partisipasi masyarakat sehingga mereka hanya menjadi objek (penonton) dalam pembangunan saja. Mereka harus menjadi pelaku penting dalam pengembangan desa wisata dalam keseluruhan tahapan, mulai dari perencanaan, pengawasan, dan implementasi. Karena sumber daya, keunikan tradisi dan budaya yang melekat pada komunitas tersebut merupakan unsur penggerak utama kegiatan di desa wisata.

Model pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata atau lebih familier dikenal dengan konsep Community Based Tourism (CBT) penting diterapkan  dalam rangka pembangunan pariwisata suatu wilayah.

Community Based Tourism adalah  konsep pengembangan suatu destinasi wisata melalui pemberdayaan masyarakat lokal di mana masyarakat turut andil dalam proses perencanaan, pengelolaan, dan penyampaian pendapat, yang memperhitungkan aspek keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya.  

Konsep ini juga terkait dengan partisipasi perusahaan tambang dan perkebunan yang ada di kawasan tersebut. Selain  memberikan nilai manfaat ekonomi yang berarti bagi pembangunan wilayah maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, pun menekankan upaya-upaya pelestarian lingkungan, baik alam maupun budaya, dan mencegah  dampak negatif  terhadap  kualitas lingkungan dan  keseimbangan ekologi lingkungan setempat.

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa  pengembangan konektivitas memiliki multi efek yang sangat besar bagi pembangunan ekonomi, budaya dan lingkungan masyarakat. Belum lagi jika kita bicara  manfaat ekonomi secara luas, seperti terbukanya lapangan kerja baru di dermaga penyeberangan, transportasi laut dan darat, agen travel, pemandu wisata dan lain sebagainya.

Baca Juga : Konektivitas Kawasan Wisata Pulau Derawan Dengan Kawasan Wisata Bulungan