Desa Budaya dan Eko Wisata Tumbang Habangoi

Potensi Ekowisata Desa Tumbang Habangoi. Foto : infopublik.id

Desa Tumbang Habangoi, Kecamatan Petak Malai memang sangat layak jika dijadikan sebagai desa wisata yang ada di Kabupaten Katingan. Sebagian wilayahnya yang berdekatan dengan Gunung Bukit Raya dan juga Taman Nasional Bukit Raya Bukit Baka memiliki pesona alam yang begitu istimewa. Tak hanya Air Terjun Bitah Samba dan Sungai Dahei saja, tetapi masih ada Air Terjun Tumbang Habangoi yang tersimpan di tengah hutan belantara. Membutuhkan setidaknya 2 jam perjalanan melewati sungai dan menyibak lebatnya hutan dari Desa Tumbang Habangoi ke objek wisata di Kalteng yang satu ini. Jadi membawa perbekalan yang cukup serta menyiapkan stamina menjadi hal yang wajib. Tak ketinggalan juga menggunakan guide dari Desa Tumbang Habangoi juga sangat dibutuhkan agar tidak salah arah di dalam hutan.

Selain kaya akan potensi ekowisatanya, desa ini juga kaya akan potensi seni budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakatnya hingga saat ini. Budaya yang berkembang di masyarakat desa Tumbang Habangoi adalah adat istiadat suku Dayak Ot Danum/ Uud Danum, sebuah suku besar yang banyak mendiami daerah hulu sungai di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Dohoi atau Kadorih. Upacara adat masih sering dijumpai pada saat pelaksanaan upacara kematian (Nyorat), pesta pengangkatan tulang (Tiwah), nikah adat (Ticak kacang), selamatan (Bayar hajat), pembersihan kampung (Menyanggar), minta rezeki (Mengeriyau), pengobatan (Nenung) dan ritual sebelum pendakian Bukit Raya.

                         Baca Juga : Seraung Topi Khas Dayak Kenyah Yang Multifungsi

Mereka masih hidup dengan memegang erat kepercayaan, budaya, maupun adat istiadat para leluhurnya. Di sini, mayoritasnya penduduknya merupakan suku Dayak Dohoi. Meskipun status 40 persen diantaranya merupakan transmigran asal suku Dohoi yang sama dari Kabupaten Sintang dan Melawi Provinsi Kalimantan Barat. Dan sampai saat ini, mereka masih memegang teguh agama kepercayaan para leluhur, yakni Kaharingan.

Nama Desa ”Tumbang Habangoi” mempunyai arti yaitu, ”Tumbang” yang berarti muara dan ”Habangoi” yang merupakan nama sungai. Jadi, Desa Tumbang Habangoi berarti desa yang terletak di muara Sungai Habangoi. Menurut sejarah yang dihimpun dari beberapa tokoh masyarakat Tumbang Habangoi serta bukti-bukti lainnya, Desa Tumbang Habangoi bermula dari sebuah perkampungan di muara Sungai Samba yang diberi nama Rantau Bayan dengan pendirinya bernama Raden Naung.

Setelah perjanjian perdamaian Tumbang Anoi (1894), Rantau Bayan pindah ke muara Sungai Pasaoi dengan didirikannya pemukiman baru oleh Raden Naung yang diberi nama Tumbang Pasaoi. Pada jaman itu Raden Naung merupakan pemimpin wilayah dari beberapa desa lainnya yang disebut Demang atau camat pada jaman sekarang. Kepemimpinan Raden Naung digantikan oleh Singa Apui. Masih pada jaman penjajahan Belanda, Tumbang Pasaoi pindah ke muara Sungai Habangoi. Perpindahan ini juga disebabkan karena terjadinya wabah kolera yang menyerang masyarakat. Selain ke muara Sungai Habangoi, sebagian masyarakat juga ada yang pindah ke Tumbang Tihis di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Pemukiman baru yang berada di muara Sungai Habangoi tersebut diberi nama Tumbang Habangoi. Kepala Kampung pertama di Tumbang Habangoi adalah Mangku Lhawan.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat adat suku Dayak Dohoi masih hidup berdampingan dan bergantung dengan hasil alam di hutan. Mereka secara arif bijaksana melakukan perburuan binatang liar, berladang bahkan memelihara ternak. Terbukanya akses sungai maupun darat, membawa generasi suku pedalaman ini mulai merantau ke luar daerah. (*)

Kontributor : Jiwan Bertus