Mengenal Dayak Modang Long Way, Desa Long Bentuq, Busang, Kutai Timur

AKHIR Februari silam (2021), kita mungkin masih ingat,  viralnya berita dan video penangkapan tiga orang pemimpin masyarakat adat Dayak Modang Long Wai di Desa Long Bentuq, Kecamatan Busang, Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang memperjuangan hutan adat kampung mereka yang diduga dicaplok oleh perusahaan sawit.

Tiga tokoh itu adalah Kepala Adat Masyarakat Dayak Modang Long Wei, Daud Luwing, lalu Sekretaris Adat Benediktus Beng Lui dan Dewan Adat Daerah Kalimantan Timur Elisason.
Mereka bertiga dijemput paksa dan diintimidasi oleh belasan pria berseragam bersenjata lengkap, yang diketahui dari kepolisian dan Babinsa.

Kepolisian membantah pemanggilan saksi disebut sebagai upaya intimidasi ataupun kriminialisasi. Pengusutan kasus pemortalan jalan adalah murni berdasarkan laporan dari warga desa tetangga yang dirugikan atas tindakan itu dan juga bertujuan untuk menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat di wilayah tersebut.

Peristiwa penangkapan itu pun akhirnya menuai simpati dari berbagai kalangan di seluruh tanah air, sampai-sampai keluar petisi online untuk membebaskan ketiganya.

Ternyata tidak hanya menarik simpati warga, berita penangkapan tiga tokoh Dayak Modang itu pun mengudang keingin-tahuan masyarakat luas akan suku Dayak Modang dan Desa Long Bentuq.
Buat kamu yang masih penasaran, berikut gambaran singkat tentang suku Dayak Modang Long Wai dan Desa Long Bentuq yang kami kutip dari berbagai sumber.

Dayak Modang Long Way
Masyarakat Dayak Modang Long Way merupakan komunitas adat yang mendiami Kampung Long Bentuq, Kecamatan Busang, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Selain di Long Bentuq, Komunitas Adat Dayak Modang Long Way juga tersebar di beberapa daerah di Kabupaten Kutai Timur Kampung Melan, Long Nah dan Long Tesak, serta satu Kampung di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu Kampung Long Beleh, Kecamatan Kembang Janggut.

Dikutip dari situs kaltim.aman or id, komunitas Adat Long Way mula – mula bertempat tinggal di daerah peretengahan Sungai Atan dan mendirikan sebuah Mien (Kampung) bernama Suin Leing Long Beaq dengan Raja (Hipui) bernama Do Mliah Lejiu. Mein tersebut kemudian dikutuk oleh Dewa (Kenlet) kerena membuat ritual yang salah.

Mein (Kampung) yang dikutuk ini tenggelam menjadi danau, sebagian warga dapat menyelamatkan diri tapi ada juga yang tidak sempat. Warga yang berhasil selamat kemudian berpidah dari tempat tersebut menuju Kepala Sungai Atan dan mendirikan Mein (Kampung) baru dengan nama Diaq Hengaq Hengaq Mendea.
Ritual Adat Pen Houh, salah satu Ritual Adat Masyarakat Adat Dayak Modang Long Way untuk membersihkan kampung dari kesialan akibat perkawinan sedarah yang dilakukan warganya

Di Mein (Kampung) Diaq Hengaq Mendea ini Komunitas Adat Dayak Modang Long Way dipimpin oleh Hipui yang bernama Delei Dieng Laing. Dari sini warga kemudian berpidah lagi dan mendirikan Mein di Daerah Guang Teweng yang biasa disebut Mein (Kampung) Long Medaeng dengan Hipui Pok Laing Lewing.

Komunitas ini kemudian berpindah lagi dengan membentuk Mein Pang Kung Gueng Teweng dengan Hipui Pok Hejaing Baing Lewing. Komunitas ini sendiri tidak begitu lama bertempat tinggal di mein yang baru ini karena mereka kembali berpindah lagi menuju Long Wetun (Sekarang dikenal Dengan mana Senyiur) dibawah pimpinan Het Ding Hejaing yang merupakan anak dari Hejaing Baing Lewing dan membentuk Mien Long Wetoung yang berada di daerah dalam Sungai Senyiur. Hingga sekarang masih ada tiang – tiang besar yang merupakan sisa bangunan lamin hingga pohon buah – buahan.

Dari Mein Wetoun, komunitas berpindah menyusuri Sungai Menwea dan membentuk mein Long Menwea (Sekarang bernama Muara Ancalong) yang dipimpin oleh Baw Leung Keleh.
Perempuan Adat Dayak Modang Long Way di Peteah (Balai Adat) Kampung Long Bentuk saat Mubes Kung Kemul 2018
Posisi Baw Leung Keleh sendiri setelah meninggal digantikan oleh Hejaing Baw Leung Keleh yang tidak lain adalah adalah anaknya sendiri. Pada masa ini Komunitas Adat Dayak Modang Long Way Lung berpindah lagi ke hulu sungai dan membentuk Mein yang bernama Long Tekau. Tidak lama setelah itu kekuasaan kemudian jatuh ke Beit Eng Yaeng dimana dimasa kepememimpinanya komunitas ini dibawa pindah menyusuri Sungai Menwea dan mendirikan mein yang bernama Long Letea. Dari mein ini mereka kemudian kembali berpindah ke Long Tekung dengan Hipui yang bernama Lenget Lung Helaq.

Dari sinilah bermula adanya kerja sama antara Komunitas Dayak Modang Long Way dengan Kesultanan Kutai dimana komunitas ini banyak membantu Sultan Kutai pada waktu itu dalam peperangan. Sebagai tanda terima kasih Sultan Kutai pada Lenget Lung Helaq maka dia diberi gelar Raja Dindak serta diangkat menjadi saudara sultan.

Gelar yang diterima oleh Lenget Lung Helaq juga merupakan lambang kekuasaan wilayah pemerintahan yaitu mulai dari Lebaung Tellen (Muara Siran sekarang) hingga ke air menitis.

Dari Long Tekung, Komunitas Adat Dayak Modang Long Way berpindah lagi ke Mein Long Juon yang masih dibawah pimpinan Lenget Lung Helaq. dari Mein Long Juon komunitas ini kembali berpindah lagi, tapi kali ini diabawah pimpinan Eng Yaing yang merupakan anak dari Lenget Lung Helaq

Dari sinilah mein yang sudah besar terpecah menjadi dua yaitu Mein Leleing Benguon diabawah pimpinan Siang Liah dan Mein Long Bentuq dibawah pimpinan Gah Long Tethean.

Desa Long Bentuq
Secara administratif Desa Long Bentuq berada di Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Long Bentuq menurut sejarah berdiri sejak abad 15 dan ditetapkan menjadi desa pada 1918, dengan nama Long Wai, kemudian secara definitif ditetapkan dengan nama Long Bentuq.

Wilayah Long Bentuk berdasarkan kesepakatan bersama antar kampung berbatasan dengan Long Bentuk pada tahun 1993 memiliki kawasan wilayah seluas +16.000 hektar. Namun saat ini kawasan Long Bentuk menjadi kecil sejak Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mengadakan koordinasi terkait batas Long Bentuk dengan pada tahun 2015.

Mata pencaharian penduduk bercocok tanam padi, budidaya coklat, karet, kopi, mengumpulkan hasil hutan nonkayu, berburu dan menangkap ikan sungai. Komposisi suku yang ada di Long Bentuq adalah Suku Dayak Modang, Suku Dayak Kenyah, Suku Bugis, Suku Kutai, Suku Banjar, dan Suku Jawa.

Dikutip dari forest watch indonesia, terdapat flora dan fauna yang berhasil diidentifikasi oleh masyarakat seperti Jahe, Kunyit, Lengkuas, Mangkudu, Kumis Kucing, Serai, Temulawak, Kayu Pasak Bumi (Kejoe Paaiq), Rumput Ginseng, Akar Sampai (Long Dehoq), Kayu Upas (Kejopeiq),Garu (Kejoleah), Minyak Lawang (Jong Loeang), Kejo Paeq (Ketemang, Pelihiding), Akar Matahari (Wakahdea), Akar Kunyit (Wekahsea), Benalu (Seloeleang) kemudian potensi lain seperti Kayu Kapur, Ulin, Banggeris, Sumber Mata Air, Batu Bara, Gas Bumi, Orang Utan (Helung Letean), Uwaq-Uwaq (Kenwaat), Beruang (Wahgoeng), Teringgiling (Ham), Rusa(Pejiue), Babi (E’woa), Kijang (E’oh), Burung Seset (Jeet), Ketwaih, Senjin (burung Penunjuk kehidupan), Pah’eat, Burung Enggang (Teguen), Burung Merak (Koong).

Sebelum perusahaan perkebunan sawit, HTI dan tambang batubara beroperasi di Kecamatan Busang, hutan di wilayah Long Bentuq kondisinya bagus. Hal ini bisa dibuktikan dengan tegakan pohon/tutupan hutan yang masih lebat dan keberadaan satwa yang mudah ditemui seperti burung Rangkong/Enggang (Buceros/rhinoplax vigil), Orang Utan (Pongo pygmaeus) dan betapa mudahnya masyarakat setempat dalam berburu babi hutan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan.(*)

Baca Juga

Dusun Rindang Benua, Pesona Budaya Suku Dayak Kenyah di Sanggata