Cerita Rakyat Dayak Bukit Binua Talaga : Kisah Satu Keluarga Menjadi Burung

DIKISAHKAN, hiduplah sepasang suami istri dengan ketiga anaknya bernama Sulansing, Indon dan Jama. Pagi itu, seperti biasa keluarga ini akan pergi ke ladang, sebelum berangkat orang tuanya menuangkan padi di pante (teras rumah panjang) untuk dijemur. Si Ibu pun berpesan kepada anaknya Indon dan Jama’ yang tidak ikut ke ladang untuk menjaga jumuran padi itu.

“Jemuran ditunggu ya, jangan sampai dimakan ayam ….kalau hujan jemuran padi diangkat kedalam rumah, kakakmu Sulansing ikut kami keladang untuk membantu menyiapkan air minum diladang.”

“Iya ibu” sahut Indon dan Jama.

Setelah orangtua dan kakaknya pergi ke ladang, senanglah Indon dan Jama’ karena mereka bebas bermain gasing. Saking asiknya bermain gasing, mereka lupa pesan ibunya untuk menjaga dan melihat jemuran padinya.Ketika hujan turun dengan derasnya, Indon dan Jama’ masih asik bermain gasing. Padi yang terkena hujan pun hanyut bersama derasnya air hujan, tak ada sebiji padipun tertinggal.

Setelah hujan berhenti mereka pun baru tersadar, buru buru mereka melihat ke pante tempat padi tadi dijemur, tapi sudah terlambat, semua padi yang dijemur orang tuanya tadi telah hanyut bersama air hujan.
Mereka berduapun ketakutan, kedua orang tua mereka pasti akan marah atas kesalahan mereka.

Setelah hari petang, orang tua dan kakak sulung merekapun pulang kerumah. Ibunya terkejut ketika ia melihat bide’ (tikar yang terbuat dari anyaman rotan) masih tergeletak di pante. Ibunya pun berkata kepada suaminya.

“Ya…ampun, jangan-jangan jemuran padi tidak mereka angkat, karena bide’ masih dipante”. Merekapun masuk kedalam rumah, dan mencari padi yang dijemurnya tadi, karena tidak melihat padinya, ibunyapun memanggil kedua anaknya itu.

“Oo….Indon…diangkatkah jemuran padi tadi, nak ?”. Indonpun yang sembunyi bersama saudaranya didalam kelambu pun menjawab .

“Maaf bu,….Kami lupa mengangkatnya ketika hujan turun..”

Lalu ibunya kembali bertanya “Mengapa bisa lupa ?”

“Karena kami asik bermain gasing, bu”jawab Indon lirih.

Mendengar hal itu, kedua orang tuanya pun terdiam, sambil menahan amarahnya kepada kedua anaknya itu. Ibunyapun melanjutkan pekerjaannya, memasak nasi dan sayur untuk makan malam keluarganya. Setelah selesai masak, ia pun menghidangkan nasi dan sayur yang ia masak tadi, lalu tanpa sengaja ia melihat gasing yang dipakai anaknya bermain tadi. Dalam hati ia berkata gara-gara main gasing inilah Indon dan Jama’ lupa mengangkat jemuran.

Dibelahnyalah gasing tersebut dan dimasaknya seperti ia memasak nasi didalam periuk. Tak lama ia pun memanggil suami dan anaknya Sulansing untuk makan. Setelah mereka selesai makan, iapun menyimpan gasinng tadi kedalam piring untuk disajikan kepada Indon dan Jama’. Bergegas ia membangunkan kedua anaknya tersebut. “Indon… Jama’….makan lagi, hari sudah malam, kapan lagi kalian mau makan ?”.
Setelah memanggil kedua anaknya iapun bergegas

Mendengar panggilan ibunya, Indon dan Jama’pun bergegas bangun untuk makan. Betapa terkejutnya Indon dan Jama’ setelah melihat isi piringnya ternyata hanya gasikng yang dibelah-belah ibunya….

Melihat itu Indonpun berkata, “Iiiiii……..sungguh terlalu marahnya ayah dan ibu kepada kita berdua dik, kalau dipukul mungkin itu masih patut, karena kita memang salah. Mereka sudah tidak sayang, lebih baik kita jadi burung saja” kata Indon kepada adiknya.
Jama’ pun menyetujui keinginan kakaknya itu. “Kalau begitu lebih baik kita duduk di tengah ‘pante’ biar semalaman kita terkena embun.”

Mereka berduapun duduk semalaman ditengah pante rumahnya, sambil bercerita meratapi apa yang telah terjadi terhadap mereka berdua, Indonpun berkata kepada adiknya Jama’ “sampai hati benar ibu dan bapa kepada kita ya dik…”
“Iya”, jawab Jama’. Mereka berduapun lalu bernyayi

‘Siup-siup kami nya…rua, turunt kao a…mutna, ganceh kami babulu niat, kami jajia’ burukng. Sampe ati banar da’ uwe da’ apa’ man diri’ wah di’ dinya Au’ jadi’nya…

(Tiup-tiup kami angin…turunlah embun…cepat beri kami bulu, kami mau jadi burung. Sampai hati benar ibu dan ayah dengan kita ya dik…… iya jawab adinya)

Mendengar nyanyian itu….angin pun bertiup embun pun turun membasahi tubuh mereka, keajaibanpun muncul…perlahan tubuh mereka ditumbuhi bulu, bulu itupun tumbuh sampai dimata kakinya… mereka pun mengulang-ngulang nyayian itu, sampai pagi menjelang, bulupun sudah tumbuh sampai di ketiak mereka.

Karena sudah pagi Sugalipun bangun dari tidurnya, ia bergegas kedapur, betapa terkejutnya ia melihat gasikng ada didalam piring, iapun berpikir jangan-jangan tadi malam ibunya memasakkan gasikng itu untuk kedua adiknya. Sunsalipun bergegas menuju kamar kedua adiknya itu, iapun semakin terkejut karena kedua adiknya tersebut tidak ada didalam kamarnya.

Sunsali bergegas keluar, sesampainya dipante, ia melihat kedua adinya itu, Iapun terperangah karena melihat tubuh kedua adiknya itu sudah berbulu. Dengan sedih Sunsalipun bertanya kepada kedua adiknya itu, mengapa mereka mau jadi burung ! ia pun memelas kalau bisa jangan sampai jadi burung pintanya kepada kedua adiknya itu. Indonpun menjawab.

“Terlalu pengajaran ibu dan ayah kepada kami, tega mereka memasakan gasing dan dibilangnya nasi kepada kami” Mereka berduapun terjun kebawah pante, walaupun mereka belum bisa terbang.

Baca juga : Legenda Pulau Mintin, Cerita Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah

Sansulipun berteriak… ‘Jangan-jangan pergi dik…yuk kita naik kerumah’ ujarnya.

“Tidak” kata adiknya, “kecuali ayah dan ibu yang menyuruh kami naik, maka kami mau jadi manusia lagi”

“Kalau begitu tunggulah sebentar kakak panggil ayah dan ibu dulu” kata Sunsali kepada adiknya, yang bergegas membangunkan ayah dan ibunya lalu menceritakan apa yang terjadi terhadap kedua adiknya.

Mendengar laporan Sunsali, ibunya berkata kepada suaminya, kalau cerita Sunsali itu tidak masuk akal.”Masa manusia bisa jadi burung” ujar ibunya.

Berkali-kali Sunsali meyakinkan ayah dan ibunya kalau ceritanya tidaklah bohong, tetapi ayah dan ibunya tetap saja tidak beranjak dari tidurnya.

Sunsalipun meninggalkan orangtuanya dan berlari keluar mengejar kedua adiknya dan memohon untuk kembali kerumah, tetapi kedua adiknya tetap menolaknya, merekapun berkata,
“Kami akan tetap menjadi burung dan akan pergi ke hutan”

Sunsali mengiba kepada adiknya agar jangan jadi burung… Tetapi kedua adiknya sudah bisa terbang dan hinggap diatas pohon rambutan didekat rumahnya.

Mendegar teriakan Sunsali memanggil adiknya, ayah dan ibunyapun bergegas bangun dan keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi, betapa terkejutnya mereka melihat kedua anaknya telah jadi burung, hanya kepalanya saja yang belum berubah menjadi burung, sehingga mereka masih bisa menyahuti perkataan ayah dan ibunya.

Nenek perempuannya pun keluar, mereka berkata agar mereka jangan jadi burung, merekapun menyahut.
“Sudah terlambat, kami tidak bisa berubah jadi manusia lagi, kecuali bulu kami baru sampai ketika tadi,mungkin sudah nasib kami untuk jadi burung” jelasnya lalu terbang bersama adiknya menuju hutan.

Ayahnya pun menangis sejadi-jadinya sambil memanggil anak laki-lakinya, iapun berubah menjadi burung totoh’. Ibunyapun menangis histeris, iapun berubah menjadi burung pangaek. Neneknyapun berubah menjadi burung alo’ sangkuku’. Sunsalipun berubah menjadi burung pune. Akhirnya 1 buah rumahpun menjadi burung.(*)

Sumber:

Maniamas Miden Sood Dayak BUKIT di Binua Talaga, Kab. Landak

Institut Dayakologi