Burung Enggang Simbol Kehormatan dan Keagungan

Burung Enggang, Foto : Dok. KLHK

 

Pada umumnya burung enggang dianggap sakral dan tidak diperbolehkan untuk diburu apalagi dimakan. Nama lain burung enggang bagi suku Dayak disebut rangkong, kenyalang, tingang atau bungai.

Burung enggang sendiri bermakna sebagai satu tanda kedekatan masyarakat Dayak  dengan alam sekitarnya. Seluruh bagian tubuh burung enggang digunakan sebagai simbol kebesaran dan kemuliaan suku Dayak. Burung ini juga melambangkan perdamaian dan persatuan.

Sayapnya yang tebal melambangkan pemimpin yang selalu melindungi rakyatnya. Sedangkan ekor panjangnya dianggap sebagai tanda kemakmuran rakyat suku Dayak.

Suaranya yang keras melengking, menjadi lambang ketegasan, keberanian, dan budi luhur. Perilakunya yang selalu hinggap di pohon tinggi diartikan sebagai sifat luhur dan jiwa kepemimpinan.

Burung enggang juga dijadikan sebagai contoh kehidupan keluarga di masyarakat agar senantiasa dapat selalu mencintai dan mengasihi pasangan hidupnya dan mengasuh anak mereka hingga menjadi seorang anak yang mandiri dan dewasa.

“Dalam masyarakat Dayak secara umum, burung—termasuk enggang—berkaitan dengan penciptaan manusia. Ia sarat nilai sakral dan spiritual. Jadi, bagi kami, mereka wajib dilindungi,” kata Direktur Eksekutif Institut Dayakologi Krissusandi Gunui seperti dilansir dari tirto.id.

Salah satu jenis burung ini adalah enggang gading. Spesies ini berukuran besar, baik kepala, paruh dan tanduknya yang menutupi dahinya.

Enggang gading memiliki paruh dan mahkota berwarna putih. Warna putih itu akan berubah menjadi oranye dan merah seiring waktu.

Perubahan itu terjadi karena enggang menggesek paruh ke kelenjar sehingga menghasilkan perubahan warna.

Daun ara merupakan makanan favorit burung ini. Ia juga suka menyantap serangga, tikus, kadal dan burung kecil lainnya.

Menurut orang Dayak Iban, Kenyah dan kerabatnya burung Enggang hanyalah utusan dari dewa dan juga merupakan penggambaran dewa alam atas atau dewa tertinggi yang menciptakan pohon kehidupan. Dalam keseniannya motif Enggang hanya dipakai oleh kaum bangsawan, sedangkan anting-anting dan paruhnya hanya untuk pejuang dan laki-laki tua.

Bagi kalangan Dayak Kenyah, nenek moyang mereka adalah sosok yang berasal dari langit yang turun ke bumi dengan bentuk menyerupai bentuk burung Enggang. Hal ini terkait dengan sistem religi yang diyakini oleh (leluhur) orang Dayak Kenyah. Mereka percaya adanya sosok gaib Bungan Malan sebagai pencipta kehidupan, alam raya dan manusia, dan Peselun Luhan sebagai Dewa pemelihara kehidupan. Selain itu mereka juga mempercayai sosok Dewa menakutkan bernama Bungan Ketepat yang berperan sebagai penguasa kematian, dialah yang mengakhiri kehidupan.

Suku Dayak Iban menyebut Enggang Cula dengan nama Kenyalang dan memiliki arti penting dalam ritual utama yang disebut Gawai Kenyalang. Mereka mempercayai Enggang Cula sebagai simbol burung duniawi tertinggi.

Patung ukiran Enggang Cula juga digunakan untuk menyambut datangnya dewa burung Sengalang Burong pada saat mengadakan pesta dan perayaan. Selain itu, bulu ekornya dipercaya dalam ritual pengobatan suku Dayak, sebagai penghubung dunia dan alam atas.

Kontributor : Farel Paulus

Baca Juga : Panglima Burung