4 Senjata Khas Dayak Yang Eksotis

Mengenal 4 Senjata Khas Dayak Yang Eksotis. Bangsa Dayak merupakan suku bangsa asli yang mendiami tanah Borneo atau pulau Kalimantan. Banyak keunikan atau kekhasan yang dimiliki bangsa dayak, mulai alat pertanian, rumah tinggal, pemakaman hingga tradisi budayanya.

Bangsa Dayak sangat dikenal dengan senjata tradisional yang sangat eksotis. Senjata diciptakan sebagai relasi kesinambungan dan keseimbangan alam dan manusia.
Berikut ini 4 senjata khas Dayak yang perlu kamu ketahui.

1. Bujak

Bujak. Foto : asetkompas.com

Bujak merupakan senjata tradisional yang mirip dengan tombak yang tangkainya terbuat dari kayu Ulin keras dan kuat. Panjang bujak sekitar 3 meter. Biasanya akan memberikan racun berupa getah dari pohon ipuh dengan tujuan agar senjata dapat lebih mematikan. Penggunaan dari senjata ini biasanya digunakan untuk berburu hewan.
Bujak juga mempunyai kait yang berada di ujung mata besinya yang disebut dengan serepang, biasanya digunakan oleh masyarakat untuk menangkap ikan.

 

2. Mandau

Mandau Dayak Kenyah. Foto; Youtube

Mandau adalah senjata tradisional Dayak yang bentuknya seperti pedang. Mandau khas Dayak memiliki bilah bermata satu dengan panjang, sehingga Mandau terlihat panjang juga ramping. Senjata mandau sendiri terdiri dari banyak jenis, tetapi jika dilihat dari kelengkungan bilahnya, maka terdapat 2 jenis Mandau, Yakni ada bilah lurus dan juga ada bilah yang condong ke belakang.

Sedangkan sarung bilah mandau biasanya disebut dengan Kumpang. Kumpang tersebut terbuat dari kayu yang dilengkapi dengan hiasan ukiran dan juga terikat dengan kantong dari kulit kayu.

Sedangkan kantong tersebut biasanya diisi dengan pisau penyerut dan juga kayu gading yang dipercaya oleh masyarakat bisa menolah hewan buas. Mandau biasanya akan disarungkan ke lumpang dan diikat ke pinggan menggunakan jalinan rotan.

Mandau bagi para lelaki Dayak merupakan simbol kehormatan sehingga dibawa kemanapun mereka berpergian. Hery Santosa dan Tapip Bahtiar dalam jurnal berjudul Mandau Senjata Tradisional sebagai Pelestari Rupa Lingkungan Dayak (2016) menyebutkan bahwa Mandau terbuat dari besi mantikel yang terdapat di hulu Sungai Mantikei, Desa Tumbang Atei, Kotawaringin Timur dan dibuat sesuai ritual adat Dayak.
Pegangan Mandau terbuat dari kayu ulin yang kuat dan dibubuhi berbagai motif yang memberikan kekuatan magis pada Mandau. Material pembuatnya dan nilai historis yang terkandung di dalamnya membuat Mandau asli Dayak menjadi senjata yang mahal dan dicari oleh para kolektor.

3. Sumpit atau Sipet

Sumpit. Foto: Kaskus

Sipet atau sumpit adalah senjata tradisional Suku Dayak yang berbeda dengan senjata lainnya. Jika kebanyakan senaja digunakan dengan cara diayun, maka sipet digunakan dengan cara ditiup. Sipet terbuat dari dua buah bagian yaitu selongsong kayu dan panah. Selongsong sumpit terbuat dari kayu ringan dengan panjang 1,5 hingga 2,25 meter yang disesuaikan dengan usia dan ukuran tubuh penggunanya. Kayu tersebut akan dilubangi sehingga membentuk selongsong dan diujungnya direkatkan pisau logam kecil.

Lalu anak panah sipet dibuat dari bambu yang tipis, ringan, diraut tajam, juga dibubuhi dengan racun. Anak panah dimasukkan ke dalam selongsong, lalu sipet ditiup dan anak panah akan melesat ke tubuh lawan maupun mangsa saat berburu. Ujung pisau pada selongsong sumpit berfungsi untuk menikam lawan pada pertarungan jarak dekat.

4. Perisai atau Telawang

Perisai. Foto ; borneochannel.com

Perisai atau telawang tepatnya disebut alat pertahan diri yang biasa sebagai pelindung diri dari segala serangan musuh yang datang pada saat terjadinya peperangan. Telawang mempunyai banyak sebutan. Seperti Telabang atau kelembit.

Senjata ini terbuat dari kayu pelantan atau pelai, yang merupakan kayu kuat tetapi ringan. Kayu tersebut dibentuk dengan menyerupai bentuk prisma dengan lebar sekitar 30 hingga 50 cm dengan panjang 1,5 hingga 2 meter.

Didalam perisai dipsang pegangan, agar penggunanya bisa menggenggam dengan nyaman. Sedangkan pada bagian depan dibentuk menyerupai atap rumah dengan ukiran dan corak warna khas Dayak.

Sumber :romadecade.org

Kontributor; Tommy Maring